Musso: Dalang Pemberontakan PKI Madiun dan Kematiannya

Ia sosok bertubuh gempal. Ia dikenal sebagai pemberani dan pintar bicara. Soekarno sempat kagum dengan sosok Musso. Ia termasuk tokoh yang tumbuh dibawah didikan Tjokroaminoto. Ia bersama Soekarno dan Kartosuwiryo tumbuh dan belajar bersama. Walaupun nantinya mereka akan menempuh jalan perjuangan yang berbeda dan mempunyai garis kematian yang berbeda. Ketika Tjokroaminoto mendirikan Sarekat Islam pada 1912, Ia aktif didalamnya. Ia juga aktif dalam ISDV bentukan Sneevlit yang mana nantinya partai tersebut berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

Ia kerap kali bersebrangan dengan para petinggi PKI dalam menentukan sikap. Contohnya pada pembrontakan PKI 1926, ia tokoh yang menggebu-gebu agar pembrontakan itu terjadi. Sedangkan Tan Malaka, mengatakan pembrontakan tersebut tidak usah dilakukan karena belum siap. Pada akhirnya pembrontakan PKI 1926 tetap terjadi. Walaupun pembrontakan tersebut gagal dan ditumpas habis oleh pemerintah kolonial. Lalu pemerintah Hindia Belanda memburunya dan menganggap Musso merupakan pria yang berbahaya. Dengan cerdiknya ia mampu lolos dan melarikan diri ke Uni Soviet yang merupakan pusat gerakan komunisme dunia.  Disanalah ia semakin yakin akan ajaran komunisme.

Ia lalu pulang ke tanah air. Dimana pada waktu itu tanah air sudah merdeka. Ia nantinya pulang membawa badai revolusi komunis. Musso pulang ke tanah air karena melihat garis PKI sudah berubah haluan yang mana takluk pada perundingan Renville, secara tidak langsung kalah dengan kekuatan front barat yang dimotori Amerika. Hal ini juga membuat PKI kehilangan kekuasaannya di pemerintah Indonesia. Kabinet PKI Amir Sjarifoeddin dijatuhkan oleh rivalnya yaitu PNI dan Masyumi.

Ia pulang dengan menyamar sebagai sekertaris dari Soeripno yang merupakan pejabat setara duta besar Indonesia di Cekoslovakia.  Ia memakai nama Musin Makar Ivanovich. Ia tiba di Indonesia pada tanggal 10 Agustus 1948. Tepat pada 13 Agutus 1948, Musso dan Soekarno bertemu di gedung Agung Yogyakarta. Banyak saksi sejarah yang menceritakan betapa haru pertemuan tersebut. Salah satu catatan pimpinan redaksi "Revolusioner" menggambarkan dengan haru pertemuan tersebut:

….Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Soekarno. Mata berlinang. Kegembiraan ketika itu rupanya tidak dapat mereka keluarkan dengan kata-kata. Hanya pandangan mata dan roman muka mereka menggambarkan kegembiraan itu. Sesudah penyambutan itu selesai, barulah Bung Karno berkata: ‘Lho, kok masih awet muda? Dijawab pak Musso” ‘O ja. Tentu sadja. Ini memang semangat Moskow, semangat Moskow selamanya muda’.

Setelah bercakap-cakap cukup lama, diakhir pertemuan, Presiden Soekarno mengajak Musso membantu meredakan pertikaian antarkelompok dalam tubuh republik. Seperti yang dicatat wartawan Revolusioner, Soepeno, Presiden berujuar takzim, "Saya harap Pak Musso, setelah kembali ke Tanah Air, bisa membantu menciptakan rust on orde". Musso menjawab dalam bahasa Belanda, "Ik kom hier om orde te scheppen (Saya memang datang ke sini untuk menciptakan ketertiban)."
Musso dan Presiden Soekarno: rosadaras.wordpress.com

Pada sidang Politbiro PKI pada 13-14 Agusut 1948, Musso menawarkan resolusi yang bernama "Jalan Baru Untuk Republik Indonesia". Hal ini didasari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Partai Komunis selama ini. Musso menggelar rapat raksasa di Yogyakarta. Disini ia melemparkan gagasannya  untuk pembentukan kabinet front persatuan. Musso juga menekankan kerjasama internasional dengan Uni Soviet untuk mematahkan blokade Belanda. Musso bersafari politik keberbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur bersama petinggi PKI lainnya. Ditengah safari itulah pecah peristiwa PKI Madiun.

Peristiwa PKI Madiun 1948 diawali dengan hijrahnya pasukan siliwangi ke Solo, yang mana daerah tersebut merupakan basis pasukan Senopati.  Letupan konflik pun mulai terjadi ketika Kolonel Sutarto  tertembak oleh sosok tak dikenal. Kecurigaan pun mengarah kepada Pasukan Siliwangi. Namun ada versi yang mengatakan, penembakan Sutarto merupakan strategi  pihak komunis sebagai laga pengalih sebelum bentrokan sesungguhnya meletus di Madiun.

“Penerimaan yang kurang bersahabat terhadap kesatuan-kesatuannya (Siliwangi -red) terjadi karena kampanye fitnah PKI Moeso, yang melihat Siliwangi sebagai penghalang ke arah tujuannya. Pertempuran di Solo dengan licik ditiup-tiup oleh PKI, yang memanfaatkan perselisihan di tubuh TNI untuk bias menarik pasukan Senopati ke pihaknya,” tulis Harry A. Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak.

Selain peristiwa tersebut, kebijakan Kabinet Hatta ReRa(Reorganisasi dan Rasionalisasi) TNI merugikan kaum kiri. Front Demokrasi Rakyat melihat kebijakan tersebut adalah bentuk melemahkan gerakan kiri/komunis, Pada waktu itu sendiri, laskar-laskar perlawanan banyak beraliansi pada gerakan kiri.

Pada 13 September 1948, peristiwa pemberontakan PKI meletus.  Markas Siliwangi diserbu pasukan Senopati, Soemarsono, Pemimpin Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) lewat Brigade 29, Pasukan tersebut merupakan afiliasi PKI. Perintah tersebut datang dari Musso. Pada 18 September 1948, komplotan FDR yang dipimpin oleh Musso dan Amir Sjarifuddin juga melancarkan aksi serupa di Yogyakarta.

Pasukan pemerintah Republik Indonesia berfokus untuk menyelsaikan masalah di Jawa Tengah. Sedangkan PKI dan FDR menuju Jawa Timur dan menguasai kota Madiun pada 18 September 1948. Pada hari itu juga Musso dkk mendeklarasikan berdirinya Republik Soviet Indonesia. Madiun jadi saksi ajang pembantaian orang-orang komunis.

Di Madiun, Sin Po menulis laporan dari saksi mata. Sesudah perebutan kekuasaan menyusul tindakan pembersihan,
Semoea pemimpin Masjoemi dan PNI ditangkep atawa diboenoeh dengan tida dipreksa poela. Kekedjaman di Kota Madiun djadi memoentjak, koetika barisan ‘warok’ ponorogo masoek kota dengen bersendjata revolver dan klewang. Di mana ada terdapat orang-orang Masjoemi, PNI atawa jang ditjoerigakan, zonder banjak tjingtjong lagi lantas ditembak. Belon poeas dengan ini tjara, korban itoe laloe disamperi dan klwangnja dikasi bekerdja oentoek pisahken kepalanja sang korban dari toeboehnja. Kedjadian atawa pemboenoehan stjara ini dilakoekan di berbagai bagian dari kota dan sakiternja, hingga dalam tempo beberapa hari sadja darah manoesia telah membandjiri kota Madioen. Soenggoe keadahan sangat mengerihkan teroetama djika orang melihat dengen mata sendiri, orang-orang jang diboenoeh pating gletak di sepandjang djalan sampe bebrapa hari tida ada jang mengangkat.

Kolonel Nasution mengajukan Aksi Militer kepada Presiden Soekarno. Presiden pun menyetujui dan memerintahkan Angkatan Perang Republik Indonesia untuk menyelamatkan pemerintahan Republik Indonesia dan menumpas pemberontakan tersebut.  Melalui Radio Republik Indonesia di Yogyakarta, Soekarno menegaskan bahwa telah terjadi kudeta yang dilakukan PKI di Madiun. Dia disini memberikan pilihan kepada rakyat: Ikut Musso dengan PKI atau Sukarno.

Berselang tiga jam, melalui radio Gelora Pemuda, Musso membalas dengan berseru bahwa Soekarno-Hatta ingin menjual Indonesia pada imperialis Amerika. Oleh karena itu, rakyat Madiun dan juga daerah-daerah lain akan melepaskan diri dari budak-budak imperialis.

Pada hari-hari pertama pemberontakan, radio pemberontak sangat agresif dalam berpropaganda, akan tetapi pada hari-hari berikutnya ketika menyadari bahwa pemberontakan mereka tidak mendapat dukungan dari rakyat ; ditambah pasukan-pasukannya terdesak disegala front, radio pemberontak mulai menyiarkan suara lunak, malah kemudian mereka mengatakan bahwa aksi Madiun itu bukan pemberontakan, tetapi hanya koreksi saja dan mereka masih menghormati bendera Merah Putih dan menjunjung UndangUndang Dasar RI. Namun, pembelaan itu tidak menolong ; karena ucapan berlainan sekali dengan perbuatan. Perbuatan mereka sejak tanggal 18 September dan hari-hari berikutnya adalah suatu perbuatan terror dan pemberontakan, juga mereka telah memproklamasikan berdirinya pemerintahan baru dengan bendera Merah dan mengganti semua pegawaipegawai yang menentangnya

Aksi bersih-bersih PKI dimulai dari Yogyakarta. Bersih-bersih di Yogyakarta dengan melucuti senjata para pembrontak. Aksi ini berlangsung damai tanpa pertumpahan darah. Gerakan Operasi Militer yang dialncarkan oleh pasukan yang taat kepada pemerintah RI berjalan dengan singkat. Dalam 12 hari Madiun dapat dikuasai kembali, tepattnya tanggal 30 September 1948 jam 16.15. Malam harinya jam 22.00 Gubernur Militer Gatot Subroto memerintahkan Angkatan Perang supaya terus melakukan pengejaran terhadap pasukan pemberontak yang bersarang di Purwodadi, Pacitan, Ponorogo, Juru Bicara Menteri Pertahanan dalam pengumumannya menyatakan; bahwa Musso melarikan diri ke Dungus, sebelah selatan Madiun. Komandan Pasukan Pemberontak mengirim surat kepada Letkol Kretarto untuk mengadakan perundingan, akan tetapi pemerintah tidak mau mengadakan hubungan dengan kaum pemberontak.

Kronologinya setelah TNI kembali merebut Madiun, Musso berusaha melarikan diri. Seperti dikutip dari buku karya Soe Hok Gie, ‘Orang-Orang di Persipangan Kiri Jalan’, Musso terlihat pada 31 Oktober 1948 di Desa Balong yang coba menyabar jadi rakyat biasa. Petugas jaga di sekitar desa itu sempat curiga dan memberhentikan Musso untuk dimintai surat-surat keterangan. Ketika barang bawaannya diperiksa, Musso merampas pistol seorang penjaga untuk menembak si pemeriksa, kemudian kabur dengan dokar yang dirampasnya dari seorang rakyat sekitar.

Pasukan TNI pun mengejar Musso yang di tengah jalan, berhasil menodong sebuah mobil dari pasukan Batalion Sunandar. Nahas, mobilnya sempat sulit dinyalakan dan prajurit yang sebelumnya ditodong, balik menodong Musso. “Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani minta saya menyerah? Lebih baik saya mati dari pada menyerah. Walau pun bagaimana, saya tetap merah putih,” seru Musso.

Musso pun kembali berhasil lari ke sebuah desa bernama Semanding, Kecamatan Sumoroto, Ponorogo, Jawa Timur. Musso sempat lari ke sebuah kamar mandi milik seorang warga sekitar. Pasukan TNI yang sudah tahu tempat bersembunyi Musso, langsung memberondong kamar mandi itu. Musso pun tumbang, sekarang tapi belum tewas. Tubuhnya dibawa dengan menggunakan drag bar atau tangga bambu untuk menggotong tubuh Musso.

“Di tengah drag bar itu patah dan akhirnya Musso digeret saja. Kemungkinan besar dia baru meninggal pas di perjalanan untuk dibawa dari Desa Semanding ke alun-alun Kabupaten P0norogo,” sebut penggiat sejarah Wahyu Bowo Laksono

“Di sana (alun-alun) dilakukan observasi dan pemotretan untuk meyakinkan kembali kalau (jenazah) itu benar-benar Musso. Sekaligus dipertontonkan ke khalayak ramai,” tambahnya. Setelah dipamerkan ke rakyat sekitar, jasad Musso diputuskan tidak dikuburkan, melainkan dibakar dan abunya dibiarkan berserakan di alun-alun. “Karena kalau dimakamkan, kalau makamnya diketahui, maka bisa jadi simbol untuk dipuja-puja pendukungnya kelak. Kenapa dibakar? Karena pada saat itu diyakini banuak gembong PKI (yang masih hidup) punya ilmu kanuragan dan salah satu cara memusnahkannya ya dibakar,”
Jenazah Musso

Pentolan pembrotakan lainnya seperti Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Suripno, Sarjono, Oey Gee Hwat, Harjono, Sukarno, Djokosoejono, Katamhadi, Ronomarsono, dan D. Mangku. Semuanya dieksekusi mati pada pagi buta, 19 Desember 1948

Sumber:
Musso: Si Merah di Simpang Republik Tempo Kompas Gramedia
Pemberontakan PKI-MUSSO di Madiun 18-30 September 1948 oleh Rachmat Susatyo
https://www.viva.co.id/berita/nasional/681988-kisah-persahabatan-bung-karno-dan-musso-sang-tokoh-pki
https://indoprogress.com/2016/11/musso-pejuang-yang-radikal/
https://id.wikipedia.org/wiki/Musso
https://id.wikipedia.org/wiki/Pemberontakan_PKI_1948#cite_note-1
https://historia.id/politik/articles/peristiwa-madiun-untuk-mewujudkan-republik-soviet-di-indonesia-PeGqD
https://merahputih.com/post/read/tragedi-solo-1948-baku-tuduh-di-tubuh-tni
https://tirto.id/soemarsono-di-antara-pertempuran-surabaya-dan-peristiwa-madiun-ddR8
https://www.republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/10/01/pfx9hp385-pembantaian-ulama-dan-santri-darah-di-madiun-september-1948
https://nasional.okezone.com/read/2015/09/17/337/1216346/madiun-affair-buyar-mayat-musso-dipamerkan-dibakar
https://historia.id/politik/articles/detik-detik-terakhir-hidup-amir-sjarifuddin-vg1eZ

Belum ada Komentar untuk "Musso: Dalang Pemberontakan PKI Madiun dan Kematiannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel