Alasan Flu Spanyol Memakan Banyak Korban di Indonesia

Salah satu wabah penyakit mematikan yang pernah menghinggapi dunia adalah Flu Spanyol. Penyakit itu diperkirakan telah memakan korban jiwa sebanyak 50 juta jiwa. Indonesia yang pada waktu itu bernama Hindia Belanda pun tak luput dari serangan wabah Flu Spanyol tersebut. Wabah Flu Spanyol mengakibatkan kepanikan di masyarakat, apalagi wabah penyakit ini sendiri berbarengan dengan wabah penyakit pes (samper). Korban akibat Flu Spanyol di Hindia Belanda sendiri kurang lebih 1.5 juta. yang menjadi pertanyaan hinggi kini mengapa  korban jiwanya begitu besar sekali?

Jawaban pertama, rumah sakit pada zaman Hindia Belanda tidak begitu banyak seperti sekarang ini. Selain itu, untuk mendapatkan fasilitas pengobatan yang lengkap tentunya membutuhkan biaya yang besar. Orang-orang yang mampu menikmati fasilitas pengobatan tersebut hanya orang-orang eropa dan cina yang notabennya merupakan golongan kaya dan menguasai ekonomi. Pada zaman itu tidak ada jaminan kesehatan nasional seperti sekarang ini.  Orang-orang pribumi pada waktu itu hanya bisa pasrah menunggu kematiannya.

Jawaban kedua, sifat rasialisme orang-orang eropa. Perlu diingat bahwasannya dokter-dokter eropa yang merupakan dokter-dokter terbaik pada waktu itu tidak mau melayani orang-orang pribumi. Mereka hanya mau melayani orang-orang Eropa atau pun orang-orang Cina. Ini erat kaitannya dengan alasan ekonomi.  Sekalipun melayani, Dokter-dokter Eropa  melayani orang-orang pribumi dengan setengah hati. Tak jarang mereka melakukan analisa penyakit pasien tanpa pernah melihat kondisi pasien. Secara tidak langsung mereka membiarkan rakyat Hindia Belanda mati.

Pada akhirnya orang-orang pribumi lari ke dukun untuk mendapatkan pengobatan. Akibatnya apa? Dukun memvonis bahwasannya penyakit Flu Spanyol tersebut sebenarnya merupakan santet  atau pun guna-guna yang dikirimkan seseorang.  Selain itu, orang-orang pribumi mengkonsumsi obat-obatan tradisional yaitu berupa jamu untuk mengobati penyakit flu yang diderita. Sebenarnya hal tersebut tidak salah jika memang sudah ada riset yang membuktikan. Hal ini sebenarnya lebih didasari karena ketidakmampuan mengakses fasilitas pengobatan modern. Sebuah foto dibawah menggambarkan seoarang tukang jamu dikelilingi oleh pembeli yang berharap akan mendapat khasiat dari jamu tersebut untuk mengobati penyakit flu yang mereka derita.

Jawaban terakhri adalah tindakan pencegahan penyakit yang begitu lambat. Jika penyakit covid-19 pemerintah Indonesia lebih sigap mengambil keputusan maka pemerintah kolonial begitu lama. Langkah pencegahan pemerintah Indonesia saat ini untuk mencegah perluasan penyakit dengan melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) Sedangkan pada pemerintah kolonial Belanda menerapkan flu ordonantie.

Pemerintah Indonesia pasca satu bulan kasus pertama kali ditemukan langsung mengeluarkan kebihakan PSBB. Sedangkan pemerintah kolonial menerapkan ordonantie  (aturan) begitu lama dari kasus awal yang ditemukan pada bulan juli 1918. Pada awal tahun 1919 rancangan Ordonantie baru dikeluarkan. Pada bulan Maret 1919, rancangan tersebut dibagikan ke lingkungan pemerintahan yang lebih kecil dan publik. Aturan tersebut akhirnya disahkan pada 20 Oktober 1920. Terhitung butuh 16 bulan dari awal wabah untuk mengeluarkan aturan pencegahan.

Mengapa begitu lama? Karena pemerintahan-pemerintahan di daerah serta perusahaan kapal Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) berusaha menghalangi aturan tersebut. Alasannya tentunya karena kepentingan ekonomi mereka terganggu dengan adanya aturan tersebut. Pada akhirnya wabah penyakit Flu Spanyol hilang dengan sendirinya di dunia termasuk di Hindia Belanda. Pada akhirnya juga, keterlambatan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial mengakibatkan banyak kematian rakyat Hindia.

Sumber: Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda

Belum ada Komentar untuk "Alasan Flu Spanyol Memakan Banyak Korban di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel