Pertempuran Stalingrad: Pertempuran Paling Berdarah Dalam Sejarah Manusia

Pertempuran Stalingrad adalah perang brutal antara pasukan Uni Soviet (Tentara Merah) dan Jerman (Nazi) selama Perang Dunia II. Pertempuran ini terkenal sebagai salah satu pertempuran terbesar, terlama dan paling berdarah dalam peperangan modern yang pernah dialami oleh manusia. Rentang waktu pertempuran tersebut dari  Agustus 1942 hingga Februari 1943. Tercatat lebih dari dua juta tentara bertempur satu sama lain dalam jarak dekat.

Akibat dari pertempuran tersebut hampir dua juta orang tewas atau terluka,  termasuk dalam hal ini  puluhan ribu warga sipil Uni Soviet.  Walaupun begitu,  Pertempuran Stalingrad (salah satu kota industri penting yang dimiliki oleh Uni Soviet) pada akhirnya menjadi salah satu episode penting  mengubah jalannya Perang Dunia II dan menjadi salah satu titik balik sekutu untuk memenangkan Perang Dunia II.

Pendahuluan Pertempuran Stalingrad

Babak awal Perang Dunia II Jerman begitu digdaya berhasil menguasai eropa barat. Tak cukup menguasai Eropa Barat, kini Jerman ingin menguasai Eropa Timur yang mana sebagian besar wilayah tersebut dikuasai oleh Uni Soviet. Jerman pun melancarkan Operasi Barbarossa pada 22 Juni 1941 untuk menaklukan Uni Soviet, namun operasi tersebut berhasil dipatahkan oleh Tentara Merah Soviet. 

Walaupun menemui kegagalan dalam Operasi Barbarossa paling tidak Jerman berhasil merebut wilayah penting Uni Soviet yaitu  Ukraina dan Belarus. Pada musim semi tahun 1942 - pasukan Wehrmacht Jerman memutuskan untuk melakukan ofensif di wilayah Soviet bagian selatan. 

Uni Soviet pada waktu itu dibawah kekuasaan Joseph Stalin, yang terkenal sebagai diktator komunis yang kejam. Walaupun Tentara Merahnya berhasil mematahkan Operasi Barbarossa namun hal tersebut harus dibayarkan dengan kerugian yang besar. Terutama banyak tentara yang mati dan peraltan tempur yang rusak.

Hitler yang awalnya menjadikan Moscow menjadi target utama, kini menjadikan wilayah Uni Soviet di bagian selatan yang merupakan pusat industri dan kaya akan minyak menjadi sasaran utamanya untuk dikuasai.  Salah satu kota penting yang terletak di wilayah selatan Uni Soviet adalah Stalingrad. Hitler melihat kota ini merupakan kota simbolis dan penting bagi pemimpin Uni Soviet yaitu Stalin. Kota tersebut menyandang namanya dan patut dipertahankan karena menyangkut harga diri pemipin Uni Soviet.

Walaupun sebenarnya bukan karena alasan itu Hitler ingin menguasainya. Stalingrad merupakan salah satu kota pusat industri Uni Soviet terutama dalam hal memproduksi persenjataan. Selain itu Sungai Volga yang mengaliri kota tersebut merupakan jalur transportasi penting bagi Uni Soviet yang merupakan penghubung bagian barat Uni Soviet dengan bagian timurnya. 

 Ketika Hitler memproklamirkan  untuk mengambil Stalingrad, semua penduduk laki-laki di kota itu akan dibunuh dan para wanitanya dideportasi, panggung pertempuran berdarah  antara kedua belah pihak akan berlangsung. Stalin memerintahkan semua orang Uni Soviet yang cukup kuat untuk mengankat senjata untuk mempertahankan  kota tersebut. Tentara ke-6 Wehrmacht Jerman Nazi memulai serangan mereka pada tanggal 23 Agustus 1942.

Pertempuran Stalingrad Dimulai

Pasukan Uni Soviet pada awalnya dapat memperlambat dan menahan kemajuan Pasukan Nazi Jerman selama serangkaian pertempuran brutal di utara Stalingrad. Namun hal ini ini butuh pengorbanan besar dari pihak Uni Soviet, paling tidak 200.000 ribu Tentara Merah tewas. Pemerintah Uni Soviet juga tidak mengevakuasi 400.000 ribu penduduk. Bagi Stalin mereka bisa jadi inspirasi Tentara Merah. 

Angkatan udara Luftwaffe Jerman telah membuat horor di Sungai Volga. Pesawat tempur Jerman membom setiap kapal yang lewat di Sungai Volga. Kapal angkut, logistik, komersial, atau pun militer semua di bom. Sungai Volga pun menjadi sungai darah dan hampir mustahil untuk dilewati. Tak cukup menyerang Sungai Volga, Sejak akhir Agustus 1942  Luftwaffe melakukan puluhan serangan udara di jantung kota. 

Jumlah korban sipil tidak diketahui. Namun, diyakini bahwa puluhan ribu orang terbunuh, dan puluhan ribu lainnya ditangkap dan menjadi pekerja paksa di kamp-kamp di Jerman. Pada bulan September, Luftwaffe menguasai langit  Stalingrad, dan Uni Soviet sendiru mulai putus asa. Para pekerja di kota yang tidak termasuk buruh pabrik senjata  diminta untuk berperang.  Para wanita diminta untuk menggali parit di garis depan.

Uni Soviet mengalami kerugian besar dalam pertempuran Stalingrad. Pada musim gugur 1942 Stalingrad hancur hanya tersisa puing-puing bangunan saja. Meskipun  banyak korban yang diakibatkan oleh serangan udara Luftwaffe, Stalin memerintahkan Tentara Merah yang berada di kota untuk tidak mundur, dengan mendekritkan Perintah No. 227: "Dilarang mundur" Mereka yang mundur dan menyerah akan diadili oleh pengadilan militer dan menghadapi kemungkinan eksekusi mati di tempat

Tentara Merah pun menghadapi situasi yang sulit, pasukan  kurang dari 20.000 di kota dan kurang dari 100 tank. Perlahan  para jenderal Stalin mulai mengirim bala bantuan ke kota dan daerah sekitarnya. Pertempuran tetap berkecamuk di jalan-jalan Stalingrad, salah satu ciri khas dari Pertempuran Stalingrad adalah pertempuran para penembak jitu. Salah satu penembak jitu terkenal dan menjadi ikon perlawanan Uni Soviet adalah Vasily Zaitsev.
Gambaran Pertempuran Stalingrad. Sumber: Britannica.com

Jenderal Uni Soviet Georgy Zhukov dan Aleksandr Vasilevsky mengorganisir pasukan Tentara Merah di pegunungan di utara dan di barat kota. Dari sana, mereka meluncurkan serangan balik, yang dikenal sebagai Operasi Uranus. Operasi tersebut nantinya akan membalikan situasi pertempuran di Stalingrad.   Meskipun akibat operasi tersebut Uni Soviet mengalami kerugian yang signifikan, Tentara Merah mampu membentuk  cincin pertahanan di sekitar kota pada akhir November 1942, menjebak hampir 300.000 tentara Jerman.  Dengan cincin pertahanan tersebut, pasukan Jerman terjebak di Stalingrad. Mereka mengalami kelaparan. Selain itu, mereka harus menghadapi musim dingin yang kejam tanpa peralatan memadai.

Jenderal Uni Soviet tahu bahwasannya kini Jerman diposisi yang sangat sulit. Kini saatnya untuk menyerang balik secara total pasukan Jerman. Pada posisi ini sebenarnya jenderal pasukan Jerman  yaitu Friedrich Paulus memikirkan untuk mundur dari Stalingrad. Namun rencana tersebu ditolak mentah-mentah oleh Hitler. Hitler memerintahkan untuk bertahan sampai titik darah penghabisan. Padahal pada waktu itu Pasukan Jerman benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk berperang.

Akhir Babak Pertempuran Stalingrad

Pada 31 Januari 1943, Jenderal Friedrich Paulus menyerah kepada pasukan Uni Soviet.  Setelah jenderalnya menyerah pasukan Jerman mengibarkan bendera putih bertanda menyerah pada tanggal 2 Februari 1943. Pada bulan Februari 1943, pasukan Rusia telah merebut kembali Stalingrad dan menawan hampir 100.000 tentara Jerman,  Sebagian besar tentara yang ditangkap tewas di kamp-kamp penjara Rusia, baik karena penyakit atau kelaparan.
Pasukan Jerman menyerah. Sumber: nww2m.com

Kegagalan di Stalingrad adalah kegagalan pertama  yang secara terbuka diakui oleh Hitler. Hal ini juga menjadi pukulan kedua setelah gagal dalam Operasi Barbarossa.  Hal ini membuat Hitler dan kekuatan Axisnya dalam posisi bertahan. Bagi Uni Soviet hal ini meningkatkan kepercayaan diri untuk  terus melakukan pertempuran di Front Timur dalam Perang Dunia II. 

Pada akhirnya, banyak sejarawan percaya bahwa Pertempuran di Stalingrad menandai titik balik utama dalam Perang Dunia II. Menandai awal menuju pintu  kemenangan bagi pasukan Sekutu Soviet, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat. 

Belum ada Komentar untuk "Pertempuran Stalingrad: Pertempuran Paling Berdarah Dalam Sejarah Manusia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel