Sejarah Wabah Pes di Indonesia dan Upaya Pemberantasannya

2020 di tandai adanya wabah penyakit besar yang melanda dunia termasuk Indonesia. Wabah tersebut bernama virus corona. Virus tersebut telah banyak merenggut korban jiwa di seluruh dunia. Persentase kematian akibat virus corona berkisar 5.5% dari angka yang terinfeksi. di Indonesia sendiri tingkat kematiannya sebesar 8 sampai 9 persen. Wabah tersebut berasal dari Wuhan Cina yang diduga virus tersebut dari kelelawar.

Indonesia saat ini sedang berjuang menghadapi wabah corona. Namun wabah ini bukan yang pertama kali terjadi di bumi nusantara.  Indonesia sebelumnya pernah mengalami wabah penyakit jauh lebih mematikan daripada corona. Hal ini terlihat dari persentase kematian wabah-wabah terdahulu. Salah satu wabah mematikan yang pernah melanda Indonesia adalah wabah samper atau biasa juga disebut penyakit pes.

Wabah pes bisa dibilang merupakan wabah paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Wabah pes ini sendiri hampir memusnahkan benua eropa pada abad 14. Wabah pes ini terkenal dengan istilah black death di dunia barat. Betapa dahsyatnya wabah pes pada waktu itu, karena berhasil  membunuh 60% populasi orang eropa. Wabah flu spanyol pada abad modern kalah jauh mematikan dibanding pes. Wabah flu spanyol membunuh 50 juta orang dari 1 miliar orang yang terinfeksi, atau secara persentase 5%.

Penyakit pes atau dikenal di Indonesia sebagai penyakit samper disebabkan oleh bakteri Yernesia pestis. Umumnya, bakteri tersebut disebarkan oleh kutu yang menempel pada tikus. Pes menyerang manusia melalui gigitan kutu yang terinfeksi bakteri tersebut. Gejala penyakit pes sendiri berupa pembengkakan getah bening (bubo) di bagian ketiak, leher, dan lipatan paha. Pada umumnya terdapat 2 tipe penyakit pes yaitu pes bubo dan pes pneumonik. Dari dua jenis tersebut yang paling berbahaya dan mematikan adalah pes pneumonik yang dapat ditularkan antar sesama manusia. 

Catatan sejarah pes di Indonesia (dulu bernama Hindia Belanda) terjadi pada tahun 1905 yang mana kasus pes terjadi di Pantai Timur Sumatera (Sumatra Oostkust). Namun kasus itu menghilang begitu saja. Pada tahun 1910-1911 terjadi kekurangan beras untuk kebutuhan dalam negeri khususnya di Pulau Jawa. Daerah Jawa yang terdampak parah dari kekurangan pangan adalah Jawa Timur.  Hal ini membuat pemerintah kolonial melakukan kebijakan impor beras dari negeri sebrang tepatnya Mynmar. Kebijakan impor beras tersebut merupakan petaka awal dari wabah pes di Indonesia khususnya di Pulau Jawa.  Beras yang diimpor tersebut terdapat tikus beserta kutu yang sudah terinfeksi bakteri Yernesia pestis.

Proses pengiriman beras sendiri langsung dari Mynmar menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Tepat pada 3 November 1910 beras tersebut sampai. Beras-beras tersebut pada akhir november disalurkan ke daerah sekitar Jawa Timur yang kekurangan pangan menggunakan kereta api. Dalam proses pengirimannya sebenarnya menemui hambatan karena jalur kereta api antara jurusan Malang dan Wlingi terputus karena musibah banjir. Pada saat itu kereta yang harusnya sudah mendistribusikan beras dari surabaya terpaksa harus berhenti di Malang. Beras tersebut untuk sementara di tampung di gudang-gudang kota malang. Malang sendiri nantinya menjadi episentrum penyebaran penyakit pes di Jawa.

Kasus pertama pes terjadi pada bulan November 1910 dimana 17 orang meninggal dunia. Bulan-bulan selanjutnya korban meninggal semakin banyak. Awalnya pemerintah kolonial tidak menaruh kecurigaan terhadap tikus sebagai hewan utama pembawa penyakit pes. Hal ini didasari karena tidak ditemukannya gerombolan tikus yang mati. Baru ketika banyak pemberitaan di luar negeri tentang penyakit pes pada Maret 1911, pemerintah kolonial menyadari bahwasanya penyakit pes telah mewabah. Pemerintah kolonial mengambil tindakan preventif dengan mengeluarkan kebijakan pesordonantie. 

Salah satu butir kebijakan tersebut adalah mengkarantina kapal yang datang ke Indonesia. Jadi kapal yang ingin berlabuh ke pelabuhan harus dikarantina selama 7-10 hari sambil dilakukan pemeriksaan oleh dokter untuk memastikan bahwasannya tidak orang yang terjangkit pes atau pun tikus pembawa penyakit pes. Namun kebijakan tersebut tidak bisa berlangsung lama karena kekurangan pangan semakin meluas di berbagai daerah. Terpaksa kapal yang datang tidak dikarantina dan langsung berlabuh. di Indonesia. Hal ini lah yang semakin membuat wabah pes semakin menjadi di Indonesia. Bisa dikatana pemerintah kolonial dilematis karena disatu sisi ingin menekan penyebaran penyakit namun disatu sisi rakyat terancam kelaparan.

Dikutip dari Tirto, pada tahun 1912 sudah ada 2000 orang meninggal karena pes. Wabah bahkan meluas sampai ke Pulau Madura. Gelombang kedua  terjadi di Jawa Tengah pada tahun 1919 sampai 1928.  Gelombang ketiga bergeser ke Jawa Barat pada tahun 1930-1934. Wabah pes sendiri menyebabkan kematian 2000 orang pertahunnya. Wabah ini berlangsung cukup lama yakni selama puluhan tahun. Selain itu tingkat kematian akibat penyakit pes ini sendiri pada awal-awal kasusnya sangat mematikan. Pada tahun 1911 terlapor 2300 dan menyebabkan kematian 2100 orang. Artinya 90% orang yang terinfeksi pes akan mati.

Wabah pes ini sendiri sebenarnya diperparah dengan gaya hidup dan lingkungan masyarakat pribumi yang tidak bersih khususnya di perkampungan. Perkampungan penduduk tidak teratur, bahan-bahan material rumah seadanya. Bahan-bahan seperti alang-alang kering, jerami kering, dan bambu, penyusun utama rumah penduduk. Hal ini umum ditemukan di daerah pulau Jawa.Rumah-rumah dengan bahan tersebut menjadi tempat nyaman tikus berserta kutunya untuk berkembang biak. Rumah yang baik dan bersih yang berbahan dasar tembok dan genteng hanya milik kaum bangsawan.

Pemerintah kolonial berusaha menghilangkan wabah tersebut dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan mengirim tim medis ke daerah yang terdampak. Pada wabah ini dokter-dokter pribumi tampil dan mengambil peranan besar. Mereka lah nantinya yang kita kenal sebagai kaum elit yang banyak memainkan peranan dalam pergerakan nasional. Salah satu dokter pribumi yang terkenal yang berperan besar dalam upaya menghilangkan wabah pes adalah Dokter Soetomo yang dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi Budi Utomo. Setelah lulus dari sekolah kedokteran STOVIA pada 1911, dr.Soetomo dan enam sahabatnya, menerima dinas langsung untuk menangani pes di berbagai daerah Indonesia. Pada masa tugas-tugasnya inilah timbul kesadaran nasional akibat kondisi bangsanya yang miskin akibat dari penjajahan yang dilakukan oleh Bangsa Belanda.

Selain itu  kebijakan untuk menghilangkan wabah pes, pemerintah kolonial memaksa orang-orang pribumi untuk mengganti bahan dasar rumahnya agar tidak menjadi sarang tikus beserta kutunya. Pemerintah kolonial memberikan pinjaman kepada rakyat pribumi untuk merenovasi rumahnya. Pinjaman ini sendiri begitu memberatkan orang-orang pribumi dan memicu perlawanan dari pihak pribumi. Salah satu perlawanan yang terkenal terjadi di Surakarta yang dipimpin oleh Haji Misbach. Perlawanan tersebut berhasil tidak ada pinjaman yang harus dibayarkan.
Upaya mengganti bahan dasar rumah rakyat pribumi
sumber: wikimedia.org

Wabah pes pun berangsur-angsur menyusut. Hal ini disebabkan karena  adanya upaya untuk melakukan peruabahan kebiasaan untuk hidup lebih bersih dari sebelumnya. Kunci utama untuk menekan penyebaran pes ini adalah menciptakan lingkungan yang bersih. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh orang-orang Eropa setelah wabah pes melanda mereka. Kasus pes sendiri masih ada pada tahun 1970-an namun tidak sebesar dan seganas kolonial. Selain itu fasilitas kesehatan juga pada tahun tersebut mulai berkembang pesat.


Sumber:

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Wabah Pes di Indonesia dan Upaya Pemberantasannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel