Alasan Negara Superpower Uni Soviet Runtuh

Dalam narasi sejarah buku-buku sejarah sekolah disebutkan bahwasannya Uni Soviet runtuh pada tanggal 26 Desember 1991. Uni Soviet sendiri merupakan negara sahabat Indonesia ketika masa Presiden Soekarno. Seperti yang diketahui bahwasannya Uni Soviet banyak membantu persenjataan Indonesia dalam upaya merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Berkat bantuan Uni Soviet Indonesia menjadi salah satu negara yang angkatan militernya terkuat di bumi bagian selatan.  Namun bagi sebagian orang masih bertanya-tanya mengapa negara Super Power Uni Soviet bisa mengalami keruntuhan?

Pada 25 Desember 1991, Presiden Soviet Mikhail Gorbachev mengumumkan pembubaran Uni Soviet dengan kata-katanya yang terkenal yaitu "kita sekarang hidup di dunia baru", Gorbachev sendiri secara tidak langsung mengakhiri episode Perang Dingin dengan Amerika Serikat. Perang yang hampir membawa dunia dalam kehancuran dalam bayang-bayang perang nuklir.

Pada pukul 19:32, bendera Soviet yang berada di atas kremlin digantikan oleh bendera Federasi Rusia, hal tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Federasi Rusia pertama yaitu Boris Yeltsin. Uni Soviet pun resmi bubar. Uni Soviet pun terpecah menjadi 15 negara baru yang independen. Bubarnya Uni Soviet membuat Amerika menjadi negara adikuasa tunggal di dunia sekaligus Amerika memenangkan Perang Dingin.

Ada berbagai macam faktor bubarnya Uni Soviet. Terutama dalam hal ini adalah kondisi ekonomi yang melemah. Reformasi sosial Glasnost dan Prestroika yang diusung oleh pemimpin terakhir Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Sampai, bencana nuklir Chernobly 1986.

Ekonomi Soviet

Uni Soviet pada awalnya merupakan negara agraris. Industrinya pun tidak semaju negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Ekonomi langsung dikontrol oleh negara. Joseph Stalin yang menggantikan Lennin mulai mengubah wajah Uni Soviet menjadi negara industri. Uni Soviet menjadi kekuatan besar dalam ekonomi atau pun militer pasca Perang Dunia II. Uni Soviet keluar sebagai negara pemenang. Ekonomi Soviet mencapai titik tertingi pada tahun 1970 dengan nilai PDB nya sekitar 60% dari Amerika Serikat.
Sumber: aier.org
Namun pertumbuhan ekonomi mulai tersendat dan cendrung menurun ketika Uni Soviet masuk dalam kancah perang Afganistan. Perang tersebut membutuhkan biaya yang besar membuat ekonomi Soviet mengalami kemunduran besar-besaran. Uni Soviet akhirnya pun pergi dari Afganistan pada tahun 1989. Hal ini tambah diperparah oleh banyaknya pejabat Partai Komunis yang melakukan korupsi.

Kebijakan Gorbachev

Pada tahun 1985, pemimpin terakhir Uni Soviet meluncurkan dua kebijakan penting yaitu Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (reformasi). Dibawah perestroika Uni Soviet akan mengadopsi sistem ekonomi komunis-kapitalis seperti Cina. Pemerintah merencanakan garis besar arah ekonomi namun memberikan kebebasan untuk para kaum swasta untuk memproduksi barang sesuai dengan kemauan pasar. Kebijakan reformasi ini ditunjukan agar membuat Partai Komunis Soviet lebih demokratis dan tidak bersifat elitis lagi.
Sumber:amazon.com
Glasnost berusaha menghilangkan batasan yang telah berlansung lama di masyarakat. Kebijakan ini membuat rakyat Soviet bebas berbicara, pers, dan beragama. Ratusan tahanan politik pun dibebaskan. Kebijakan ini intinya adalah membuat orang-orang Soviet agar bebas menyuarakan pendapatnya.  Namun kebijakan ini menjadi blunder tersendiri. Kebijakan yang ditunjukan untuk relaksasi dan keterbukaan. Malah membuat Uni Soviet menuju jurang kehancuran. Sebelum adanya kebijakan tersebut Pemerintah Uni Soviet begitu ditakuti, sekarang banyak rakyat Soviet berani menentang pemerintahannya dan menuntut berakhirnya kekuasaan Soviet. 

Bencana Nuklir Chernobly

Bencana nuklir ini bisa dikatakan bencana nuklir terburuk sepanjang sejarah manusia. Ledakan terjadi pada 26 April 1986 di pembangkit listrik Chernobly di Prypyat, Ukraina. Ledakan tersebut menyebabkan awan radioaktif keberbagai tempat di benua eropa. Radiasi yang dihasilkan 400 kali lebih mematikan daripada bom atomm yang dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima. Pihak Partai Komunis tidak memberitahukan ledakan tersebut kepada dunia dan berusaha menutup informasi serapat-rapatnya. Hal ini tentunya tidak berbanding lurus dengan prinsip Glasnost yang sering disuarakan.
sumber: thesun.co.uk
Akhirnya pada 14 Mei 1986, Gorbachev mengeluarkan pernyataan resmi sebagai pimpinan Uni Soviet. Ia menyebut bahwasannya bencana tersebut sebagai "malapetaka", ia mengecam negara-negara barat yang mengkampenyekan berita bohong terhadap ledakan reaktor nuklir tersebut. Bencana tersebut benar-benar malapetaka. Banyak orang yang terkena dampak radiasi langsung akibat ledakan tersebut. Pada akhirnya kepercayaan publik terhadap pemerintah partai komunis hancur. Selain itu biaya krisis nuklir tersebut terhitung besar. Puluhan tahun kemudian Gorbachev mengungkapkan "Mungkin penyebab sesungguhnya runtuhnya Uni Soviet lima tahun kemudian karena bencana Chernobly".

Sumber: https://www.thoughtco.com/why-did-the-soviet-union-collapse-4587809

Belum ada Komentar untuk "Alasan Negara Superpower Uni Soviet Runtuh"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel