Bantuan Militer Uni Soviet Ke Indonesia

Indonesi dan Uni Soviet (kini Rusia) telah menjalin lama kerjasama bilateral. Uni Soviet lah negara yang pertama kali mengakui kedaulatan Indonesia dalam sidang PBB, delegasi Uni Soviet dalam sidang PBB Januari 1946 mengutuk dan menentang invasi yang dilakukan oleh Belanda terhadap negara baru Indonesia.

Pasca perundingan KMB yang mengakhiri konflik militer antara Indonesia dan Belanda yang disertai dengan penyerahan kedaulatan terhadap orang-orang Indonesia,  Menteri Luar Uni Soviet A.Y. Vyshinskiy mengirim telegram kepada Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri, Moehammad Hatta. Telegram tersebut berisi pengakuan resmi secara hukum eksistensi Negara Indonesia.  Tanggal 3 Februari 1950 dibukanya hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet secara resmi. Pada tahun 1953 Indonesia menerima perwakilan kedubes Uni Soviet di Jakarta.

Memasuki era demokrasi terpimpin yang mana Presiden Soekarno mempunyai kuasa penuh terhadap jalannya pemerintahan Indonesia. Hubungan Indonesia dan Uni Soviet semakin mesra. Kedua negara mengadakan kerjasama dalam berbagai bidang seperti Militer, Pendidikan,dan Budaya. Salah satu yang menonjol adalah bidang pendidikan. Tak kurang 2000 mahasiswa Indonesia dikirim untuk belajar ke Uni Soviet mereka ini terkenal sebagai mahasiswa ikatan dinas. Mereka belajar berbagai macam bidang. Mereka ini nantinya menjadi generasi pembangun Indonesia.

Selain itu bidang pendidikan kerjasama Indonesia dan Uni Soviet juga terlihat dalam bidang militer. Seperti yang diketahui pada era 50-an Indonesia sedang berupaya merebut kembali Irian dari tangan Belanda. Indonesia sendir membutuhkan persenjataan yang kuat serta mempunyai kualitas yang bagus untuk bisa berkonfrontasi langsung dengan Belanda di Papua.

Sebelumnya Pemerintah Uni Soviet telah menawarkan bantuan militer kepada Presiden Soekarno pada Bulan Februari 1960 ketika Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushcev melawat ke Indonesia. Namun pihak Angkatan Darat menangguhkan bantuan tersebut. Namun selang beberapa bulan kemudian memasuki Bulan Desember 1960 situasi konflik Indonesia-Belanda di Irian semakin panas. Presiden Soekarno memanggil Jenderal Nasution ke Istana. Jenderal Nasution diperintahkan Presiden Soekarno untuk membeli persenjataan dari pihak Uni Soviet. Jenderal Nasution pun akhirnya berangkat langsung ke Moscow ibu kota Soviet.
Lawatan Nasution Ke Moscow
sumber: id.rbth.com

Selama seminggu di Moscow Nasution akhirnya menandatangani pembelian persenjataan pada tanggal 6 Januri 1961. Uni Soviet secara tidak langsung memberikan bantuan militer dengan skema mencicil pembelian selama 20 tahun disertai bunga 2.5%. Indonesia sebelumnya berusaha mendapatkan persenjataan dari pihak barat dalam hal ini Amerika Serikat dan sekutunya namun mereka menolak menjual senjatanya karena Belanda sendiri tergabung dalam NATO yang dipimpin oleh Amerika.

Jenderal Nasution pulang ke Indonesia dengan membawa peralatan tempur senilai $450 juta, nilai tersebut setara 4 milliar dollar saat ini atau dalam rupiah sebesar 60 triliun . Kebutuhan Angkatan Laut dan Angkatan Udara menjadi prioritas. Dalam rinciannya Nasution mengatakan berhasil membawa 12 kapal selam, belasan kapal roket cepat, pesawat-pesawat AL, helikopter-helikopter, dan peralatan Amfibi untuk KKO. Angkatan udara memperoleh pesawat jet tempur, pesawat pembom, dans sistem pertahanan udara. Sedangkan Angkatan Darat terbatas pada tank dan perlengkapan artileri.

Armada tempur yang dibawa dari Uni Soviet bukan armada sembarangan. Indonesia mendapatkan armada terbaru dan tercanggih pada zaman tersebut. Contohnya pesawat pembom TU-16 dan pesawat tempur MIG-21. Pesawat-pesawat tersebut ditakuti pada zamannya. Indonesia pada waktu itu
menjadi satu-satunya negara Asia yang memperoleh senjata berat mutakhir dari Uni Soviet.
TU-16
sumber: angkasa.news

Mig-21

Belanda sendiri mempunyai kapal induk Kareel Doorman untuk siap berkonfrontasi dengan Indonesia. Namun Indonesia tidak gentar dan memesan kapal penjelajah Soviet yang dinamai KRI Irian yang berbobot 16640 ton. Kapal tersebut menjadi monster laut yang menakutkan bagi Belanda. Indonesia dengan peralatan tempur Uni Soviet menjadi kekuatan militer terkuat di belahan bumi bagian selatan.
KRI IRIAN
sumber: wikipedia.org

Sumber:
Antara Indonesia dan Rusia Sebuah Tinjauan Sejarah oleh Dr. Hj. Aelina Surya, Dra

Belum ada Komentar untuk "Bantuan Militer Uni Soviet Ke Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel