Pembantaian Pertama Jepang Di Indonesia

Banyak buku sejarah bercerita bahwasannya Jepang telah menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun. Penjajahan itu sendiri diwarnai dengan pembantaian orang-orang Nusantara. Padahal pada abad-abad sebelumnya terjadi pembantaian  yang dilakukan oleh orang-orang Jepang tepatnya  dilakukan oleh golongan Samurai pada abad 17 yang dikenang sebagai Peristiwa Pembantaian Banda (1621).

Pada tahun 1600 terjadi peristiwa besar di Jepang dimana terjadi Perang Sekigahara. Pertempuran tersebut bisa dikatakan merupakan perang saudara antar sesama orang-orang Jepang. Kedua kubu yang bertikai dibawah pimpinan Toyotomi Hideyori dan Tokugawa Ieyasu. Kurang lebih 200.000 pasukan terlibat dalam pertempuran tersebut. Banyak diantara pasukan  tersebut merupakan samurai. Perang tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Tokugawa Ieyasu. Pasca perang berakhir banyak samurai-samurai yang kehilangan tuannya dan akhirnya menjadi ronin (samurai tanpa tuan).

Jepang sendiri mempunyai hubungan dengan bangsa Eropa yaitu Portugis. Namun Jepang tidak membiarkan Portugis masuk penuh ke tanah Jepang. Jepang menyediakan Pulau Deijima khusus orang-orang Portugis agar bisa melakukan perdagangan. Hubungan Jepang dan Portugis tidak berlangsung lama. Pada akhirnya Jepang tidak memberikan izin lagi kepada Portugis untuk menempati pulau tersebut karena Portugis berusaha mengusik kehidupan agama di Jepang. Penghuni baru pun datang yaitu VOC Belanda yang merupakan perusahaan multinasional terkaya pada waktu itu. Keluarlah perizinan dagang atas nama Tokugawa Ieyasu.
Perizinan Dagang(Handelspas)
sumber: Wikipedia.org

Salah satu kepulauan Nusantara yang terkenal sebagai pusat rempah-rempah adalah Kepulauan Banda yang terletak di Kepulaian Maluku. Dua bangsa besar yaitu Inggris dan Belanda memperebutkan kepulauan rempah tersebut. Mereka terlibat berbagai macam konflik untuk memperebutkan pusat rempah pala tersebut. Pada akhirnya kedua belah pihak berdamai dengan melakukan pertukaran. Pihak Belanda menyerahkan New Amsterdam (New York pada era ini) kepada Inggris. Sedangkan Inggris bersedia menyerahkan Kepulauan Banda kepada pihak Belanda.

Setelah mendapatkan Banda secara resmi, Belanda lalu segera mengirimkan utusannya itu Admiral Pieterszoon Verhoeven untuk menegosiasikan perdagangan. Namun masyarakat Banda tidak menyambutnya dengan baik karena Belanda sendiri dengan VOC nya telah dikenal di Nusantara sebagai pelaku monopoli perdagangan yang disertai ekspansi terhadap kerajaan-kerajaan di Nusantara. Akibatnya Verhoeven dan armadanya pun ditewas. Namun adal salah satu orang Belanda yang selamat yaitu Jan Pieterszoon Coen yang pada waktu itu merupakan juru tulis dari Verhoeven.

JP. Coen pada akhirnya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. JP. Coen masih diliputi oleh rasa dendam atas peristiwa yang terjadi di Banda. Ia ingin balas dendam atas peristiwa tersebut. Untuk merealisasikan dendamnya tersebut, ia mulai mengumpulkan armada tempur besar untuk bertolak ke Banda. Ditengah persiapan tersebut ia melihat bahwasannya ada para ronin yang berjumlah besar dari pihak Toyotomi Hideyori menganggur. Belanda yang merupakan salah satu bangsa eropa yang bisa berhubungan dengan Jepang melihat bahwasannya para ronin ini bisa dimanfaatkan sebagai tentara bayaran. 

Pada awalnya JP.Coen menginginkan 300 samurai, namun karena terbentur oleh dana maka akhirnya hanya 100 samurai saja yang bisa dibawa, itu pun sudah termasuk tenaga ahli penunjangnya. Pada 1621 akhirnya armada tempur bertolak ke Banda. JP. Coen berniat membalas dendam terhadap rakyat Belanda yang mana telah membunuh atasannya dan bangsanya.  Dengan armada yang siap tempur dan terlatih maka rakyat di Pulau Banda pun dapat ditaklukan. 
Lukisan yang menggambarkan Pembantaian Samurai(historia.id)

JP. Coen akhirnya mengumpulkan rakyat Banda yang masih hidup untuk menyaksikan eksekusi mati terhadap orang-orang elit baik itu pedagang atau pun bangsawan. Bagi JP.Coen orang-orang ini, merupakan orang-orang yang harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Verhoeven dan awaknya. Eksekusi tersebut dilakukan oleh para samurai. Eksekusi ini berjalan keji dengan memotong tubuh menjadi empat bagian. Kepala mereka dipamerkan ke khalayak umum. Bagi Coen hal ini penting dilakukan untuk memperingatkan penduduk Banda bahwasannya mereka bisa bernasib sama jika berani melawan. 

Sumber:

Belum ada Komentar untuk "Pembantaian Pertama Jepang Di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel