Ajaran Tasawuf Imam Al-Ghazali

Berbagai pemikiran-pemikiran Sufi memiliki peranan penting dalam sejarah umat Islam di dunia. Ajaran sufi yang dikenal dengan tasawuf menjadi penerang hati bagi sebagian orang dan menjadi sarana untuk mendekatkan diri dan mengenal Tuhan. Definisi Tasawuf dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia yang merupakan makhluk yang harus berjuang, serta manusia sebagai makhluk yang memiliki Tuhan. Jika merujuk pada sudut pandang yang pertama definisi tasawuf adalah upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan memfokuskan diri hanya untuk berserah kepada Allah SWT.   Salah satu asas dalam tasawuf adalah moralitas yang berdasarkan Islam. Aspek moral tersebut juga ada di dalam Al-Qur’an seperti misalnya Kesabaran, cinta, berserah diri pada Tuhan, dan segala hal yang diperuntukan bagi umat Islam untuk menyempurnakan iman. 

Banyak  tokoh sufi yang terkenal pada zamannya bahkan sampai saat ini. Misalnya Ibnu Arabi yang terkenal dengan konsep wahdat al-wujud dan Al Halaj dengan konsep Hulul, serta al-Ghazali yang memiliki julukan Hujjatul Islam. Beliau merupakan tokoh tasawuf yang pemikirannya berpangkal pada Islam Sunni, dan tidak mengikuti aliran tasawuf hulul dan wahdat al wujud. Al-Ghazali juga merupakan seorang pemikir Islam yang juga kaya akan ilmu pengetahuan lainnya.

Ilustrasi Sufi, sumber: id.pinterst.com

Tasawuf Menurut Imam Al-Ghazali

Menurut Al-Ghazali golongan pencari kebenaran itu ada 4 macam yaitu: Para ahli ilmu kalam yang mengaku ahli pikir, para bathiniyah, yang menerima pelajaran dari imam yang ma’sum, kalangan filsuf yang mengklaim ahli bukti, serta golongan sufi yang mengaku dapat menyaksikan fenomena ghaib dan rahasian Tuhan.  Menurut al-Ghazali kebenaran terdapat dari salah satu dari golongan tersebut, Oleh karena itu, al-Ghazali mempelajari keempat ilmu  tersebut hingga akhirnya menempuh jalan sebagai seorang sufi

Bagi Al-Ghazali, jalan tasawuflah yag paling tepat untuk mencari kebenaran yang hakiki. Jalan Sufi adalah perpaduan ilmu dan amal seta hasilnya adalah moralitas. Mengamalkan apa yang diajarkan sufi lebih sulit dari sekadar mempelajari karya-karyanya. Karena hal itu tidak hanya bisa dicapai dengan belajar tetapi juga melainkan keterbukaan batin, kondisi rohaniah yang baik. Corak Tasawuf Al-Ghazali adalah tasawuf yang berada dalam pangkuan Islam Sunni. Berbeda dengan corak tasawuf ekstrim yang sering bersinggungan dengan kalangan Islam Sunni. Al-Ghazali datang untuk memilih tasawuf Sunni yang berlandaskan Alqur’an dan Sunah Nabi dan doktrin Ahlu Sunnah wa Al-Jama’ah. Ia tidak melibatkan diri dalam aliran tasawuf inkarnasi ataupun pantheisme, serta tasawufnya tidak keluar dari jalan sunnah dan Islam yang benar.

 Implementasi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali


Al Ghazali menuangkan pemikirannya tentang tasawuf diantaranya At-Thariq (Jalan), Ma’rifah, Tingkatan Manusia, dan Kebahagiaan. 

Menurut Al-Ghazali ada beberapa jenjang perjalanan yang harus dilalui seseorang untuk menjadi Sufi; Yang pertama adalah tobat,  mencakup tiga hal yaitu ilmu, sikap, dan tindakan. Ilmu adalah kaidah atau pegangan seseorang untuk menghindari  seseorang dari bahaya dosa besar. Tobat harus dilaksanakan dengan sugguh-sungguh serta berjanji untuk tidak akan mengulangi dosanya lagi. 
Kedua adalah sabar, manusia memiliki daya yang mendorong seseorang untuk berbuat baik serta daya yang mendorong seseorang untuk berbuat jahat. Jika daya seseorang untuk berbuat baik lebih besar daripada daya seseorang untuk berbuat jahat, maka orang tersebut dapat dikatakan sabar. 
Ketiga yaitu kefakiran, yaitu berusaha untuk menahan atau menghindarkan diri hal yang dibutuhkan. Keempat yaitu berbuat Zuhud, yaitu ajaran yang mengajarkan bahwasanya harus meninggalkan segala gemerlap duniawi dan hanya mengharapkan kesenangan ukhrawi. 
Kelima adalah tawakal, sikap tawakal akan muncul jika seseorang teguh atas keyakinan Allah yang maha kuasa yang  memiliki kuasa untuk melakukan apa saja terhadapt manusia. Allah juga merupakan maha pengasih dan maha penyayang kepada semua mahkluknya, Oleh karena itu manusia harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
Keenam adalah Ma’rifat, yaitu mengetahui Rahasia Allah dan mengetahui segala peraturan yang ada. Dari sinilah kemudian yang akan menimbulkan Mahabbah atau mencintai Tuhan. Seseorang yang ingin menempuh jalan sufi harus konsisten untuk menjalani hidup menyendiri dan menahan lapar, serta mengosongkan hati dari berbagai macam godaan kesenangan duniawi. Karena tabiat yang mengutamakan kebahagiaan duniawi adalah tabiat yang akan menghambat jalan seseorang untuk menjadi Sufi.

Ma’rifah adalah pengetahuan tanpa ada kerguan sedikitpun teradap zat Allah SWT dan sifat-sifatnya. Ma’rifah zat adalah mengetahui dan percaya sepenuh hati bahwa keagungan adalah sifat-Nya dan tidak ada satu makhluk pun yang menyerupainya. Sedangkan Ma’rifah sifat adalah mengetahui bahwasanya Allah SWT maha melihat, maha hidup, maha mengetahui, dan maha mendengar, serta segala sifat kesempurnaan lainnya. Ma’rifat seorang sufi yaitu kalbu, kalbu bukanlah merupakan hati manusia secara biologis. Namun Kalbu adalah percikan ke-Tuhanan yang merupakan realitas manusia. Kalbu ibarat cermin dan pengetahuan ibarat gambar yang diperlihatkan pada cermin. Maka dapat dikatakan jika Kalbu tidak bening, Gambar yang dipantulkan atau relaitas ilmu yang ditampilkan tidak dapat terlihat. Salah satu yang membuat kalbu manusia kotor adalah Hawa Nafsu. Ketaatan pada Kalbu dan menghilangkan hawa nafsu merupakan kunci diri untuk membersihkan dan menyucikan kalbu. Menurut Al-Ghazali cinta kepada pengetahuan adalah buah dari pengetahuan. Karena tujuan dari pengetahuan adalah untuk“mengenal Allah”. Tanpa kita mengenal Allah melalui Pengetahuan serta pemahaman, mustahil seseorang untuk cinta kepada Allah. 

Dalam tasawuf, Menurut Al-Ghazali terdapat tiga tingkatan manusia yaitu manusia yang  masih berfikir sederhana atau orang awam, Orang pilihan yang berfikir mendalam, dan orang yang ahli debat.  Golongan yang pertama adalah golongan orang “pengikut” atau mudah percaya dengan orang lain. Golongan tersebut harus diberi nasihat dan petunjuk-petunjuk. Sedangkan golongan kedua adalah golongan yang harus dijelaskan hikmah-hikma, serta yang terakhir, ahli debat harus dihadapi dengan mematahkan argumen-argumennya. 

 Kebahagiaan adalah tujuan akhir dari pengembaraan para sufi, yaitu buah pengenalan dan cinta terhadap Allah. Al-ghazal menuangkan pemikirannya tentang kebahagiaan pada kitab Kimia al-Sa’adah dan Ihya Ulum al-Din. Menurutnya sumber kebahagiaan manusia adalah Ilmu dan amal. Ilmu adalah alat untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, serta jalan untuk mendekatkan diri pada Allah.  Serta amal merupakan sarana ilmu yang akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan yang abadi.  Kebahagiaan bersumber dari kenikmatan atau kepuasan. Rasa nikmat itu sendiri akan diperoleh jika manusia melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh Tabiatnya. Tabiat mata adalah melihat sesuatu yang Indah sedangkan Tabiat hati adalah dapat dirasakan kenikmatannya jika seseorang mengetahui Allah. Ketika seseorang sudah memperoleh Ma’rifat Allah, seseorang akan semakin merasa nikmat dan bahagia setiap ma’rifatnya bertambah besar maka kenikmatannya akan bertambah pula. Pada akhirnya, taka da satu eksistensi pun yang lebih besar daripada Allah, tidak ada satu kenikmatan dan kebahagiaan yang melebihi nikmat Ma’rifah. Taka da satupun hal yang lebih mulia daripada Allah. Karena kemuliaan dan segala keajaiban alam hanya berasl dari Allah. Semua kenikmatan dunia akan berakhir bersama dengan kematian sedangkan kenikmatan ma’rifah kenikamatannya akan abadi. 

Al-Ghazali berupaya mengembalikan Islam pada sumber fundamental dan historis melalui sufistik. Ia mengajarkan hal itu dengan bahasa yang sederhana dan dapat difahami oleh orang awam.  Selain itu  menurut analisa Duncan B.Mac Donal, A-Ghazali membawa kembali orang Islam pada pngkajian dan penghayatan kalam Allah dan sunnah Rosul. Kemudian nasihat-nasihatnya mengingatkan pada al-khauf (takut) khususnya ketakutan pada neraka. dan Alghazali mengubah paradigma teologis filosofis yang bermula bersifat elitis yang hanya dapat dipahami orang-orang tertentu, menjadi lebih universal bahkan dapat dipelajari oleh orang awam, serta yang terakhir tasawuf memperoleh kedudukan yang terhormat dalam Islam, bahkan hingga saat ini.

Sumber:
Ahmad Zaini. Pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali. STAIN Kudus Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf Volume 2 Nomor 1 2016


Belum ada Komentar untuk " Ajaran Tasawuf Imam Al-Ghazali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel