Pokok-pokok Ajaran Mu'tazilah

Mu'tazilah pada dasarnya tidak mau menerima otoritas kekuasaan yang menggunakan agama sebagai legitimasi kekuasaannya. Menggunakan agama untuk menindas golongan yang berbeda. Otoritas agama pada masa awal Mu'tazilah mengklaim sebagai pemegang kebenaran dan moral. Tafsir penguasa adalah tafsir yang benar.

Kaum Mu'tazilah menolak pandangan tersebut, sebaliknya menuru mereka ayat-ayat Al-Quran yang merupakan firman Allah bisa ditafsirkan semua orang berdasarkan bernalar, beragumen, dan melakukan perdebatan. Bagi bagi mereka tafsir tunggal penguasa menimbulkan penyelewengan. Pemahaman islam sendiri didasari oleh dua hal pertama A-Quran dan iman.

Mu'tazilah dengan sengaja menarik logika dan aspek filsafat Yunani dalam menjalankan kedua hal tersebut. Secara keseluruhan mereka percaya manusia dengan akal budinya mampu menemukan kebenaran dan mampu menafsirkan wahyu kenabian dengan benar. Itulah sebabnya perintah pertama dalam Al-Quran adalah iqra “membaca”, disini Allah menyuruh manusia agar berpikir.

Mu'tazilah sendiri yang lahir karena adanya konflik politik berkepanjangan dalam tubuh umat islam pasca wafatnya Nabi Muhammad dan terbunuhnya Utsman bin Affan, mempunyai pokok-pokok ajaran yang dipegang teguh. Secara prinsipal Mu'tazilah merupakan golongan yang menggunakan akal dan logika dalam menemukan landasan-landasan pemikirannya.

Mereka sendiri bisa dikatakan sebagai golongan filosofis dari dunia islam. Mereka menggunakan cara berpikir dan metode ala filsafat Yunani untuk mempertahankan pemahaman mereka.  Mereka lebih senang bergelut dalam bidang pemikiran dibanding pada urusan politik, walaupun pada akhirnya mereka nanti juga terjun dalam dunia politik.

Mu'tazilah dalam mendasarkan gerakan keagamaannya pada lima prinsip. Lima prinsip ini adalah:

  1. At-tauhid (Keesaan Tuhan) 
  2. Al-adl (Keadilan Tuhan) 
  3. Al-Wa’du wal wa’id (Janji dan ancaman). 
  4. Al Manzilah bainal manzilatain (Posisi antara dua posisi) 
  5. Amar makruf Nahi Mungkar (Menyuruh berbuat kebaikan dan melarang segala kemungkaran)
Seseorang Mu’tazilah baru bisa diakui jika sudah mengakui, menerima, dan menjalankan prinsip-prinsip tersebut. Hal-hal berikut dapat dimaknai sebagai berikut ini

Dalam prinsip pertama “Tauhid”, menganggap bahwa Allah tidak seperti unsur-unsur yang di semesta. Allah sesuatu yang tunggal yang tidak bersifat benda/materi, pribadi, inti,  dan tidak menempati ruang waktu. Tidak ada mahluk yang menyerupai dia. Berangkat dari hal ini, maka tidak ada satu pun indera manusia yang merupakan bagian dari materi dapat menjangkau Allah. Indra manusia pada dasarnya hanya bisa merasakan materi disekelilingnya dan tidak bisa menggapai sesuatu diluar hal tersebut. Allah lah sumber dari semua yg ada di semesta ini dialah sang pencipta.

Dalam prinsip kedua “Al-adl (Keadilan)”, manusia menciptakan kelakuan-kelakuannya sendiri, baik itu kelakuan buruk atau pun baik. Karena hal itu, manusia mendapatkan ganjarannya berupa pahala dan dosa. Tuhan sendiri tidak ikut campur tangan pada hal-hal yang dilakukan oleh manusia. Tuhan adalah sesuatu yang suci  dan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang buruk.

Dalam prinsip ketiga “Al-Wa’du wal wa’id (Janji dan ancaman)”, kaum Muktazilah bersepakat bahwasannya jika seseorang mukmin meninggal dalam keadaan taat dan taubat, maka ia mendapatkan ganjaran (pahala) dan karunia atas semua perbuatannya di dunia. Sementara bagi orang mukmin meninggal dalam keadaan tanpa taubat dahulu dari dosa besar yang telah diperbuatnya, maka akan mendapatkan dosa dan bertempat kan di neraka untuk selamanya, akan tetapi siksnya lebih ringan daripada orang-orang kafir.

Dalam prinsip ketiga “Al-Wa’du wal wa’id (Janji dan ancaman)”, kaum Muktazilah bersepakat bahwasannya jika seseorang mukmin meninggal dalam keadaan taat dan taubat, maka ia mendapatkan ganjaran (pahala) dan karunia atas semua perbuatannya di dunia. Sementara bagi orang mukmin meninggal dalam keadaan tanpa taubat dahulu dari dosa besar yang telah diperbuatnya, maka akan mendapatkan dosa dan bertempat kan di neraka untuk selamanya, akan tetapi siksanya lebih ringan daripada orang-orang kafir.

Dalam prinsip keempat, “Almanzilah bainal manzilatain (Posisi antara dua posisi)”, seseorang yang berbuat dosa besar akan ditempatkan di pertengahan, hal ini berarti, orang tersebut bukanlah orang mukmin dan juga bukan golongan orang kafir. Hal ini sendiri sebenarnya didasari oleh pertikaian bersejarah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, dimana terjadi perselisihan antara kaum Khawarih dan Murjian mengenai perkara kafir dan mengkafirkan sesama muslim jika diketahui telah melakukan dosa besar. Bagi Khawarij, muslim yang telah melakukan dosa besar maka digolongkan sama seperti halnya orang-orang kafir. Sedangkan Murjain, menganggap sepanjang muslim tersebut masih beriman pada Allah dan rasulnya maka ia tetap dianggap seorang muslim. Untuk itu Mu’tazilah mengambil jalan tengah atas pertikaian tersebut.

Dalam prinsip kelima, “Amar Makruf Nahi Mungkar”, berhubungan dengan pembinaan moral dan tata tertib umat, Mu'tazilah menganggap penerapan prinsip tersebut sebagai suatu sistem kontrol sosial dan wajib dijalankan. Pertama-tama menggunakan seruan, jika tidak berhasil maka menggunakan cara-cara represif. Hal ini lebih ditekankan kepada para pemilik kekuasaan.

Sumber:
  • Jumal Ahmad. 2017. Muktazilah: Penamaan, Sejarah dan Lima Prinsip Dasar(Ushul Al-Khamsah). UIN Jakarta.
  • Safii. 2014. Teologia Mu’tazilah: Sebuah Upaya Revitalisasi. Teologia, Volume 25, Nomor 2, Juli-Desember 2014.

Belum ada Komentar untuk "Pokok-pokok Ajaran Mu'tazilah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel