Sejarah Lengkap Mu'tazilah

Salah satu golongan terpenting yang memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban islam adalah golongan Mu’tazilah. Mereka bisa dibilang merupakan golongan yang membawa sumbangsih besar terhadap pemikiran islam serta orang-orang yang mencintai ilmu pengetahuan.  Mu’tazilah sendiri identik dengan identitas sebagai pencetus gerakan awal filsafat islam. Mereka memang banyak dipengaruhi oleh landasan-landasan berpikir Yunani dalam pahamnya. Mereka sendiri identik dengan kaum yang menggunakan akal untuk menghadapi permasalahan yang terjadi.
sumber: republika.co.id 
Dalam perjalan sejarahnya berbagai aliran-aliran teologi islam lahir dari akibat persoalan yang membelit umat islam sendiri, terutama dalam konflik perpolitikan yang rumit. Sejak kematian Nabi Muhammad SAW konflik terus menerus terjadi dan cenderung semakin memanas. Peristiwa besar yang menandai hal tersebut adalah terbunuhnya Utsman Bin Affan yang menimbulkan huru-hara di kalangan umat islam.

Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib cenderung rapuh, hal ini ditandai dengan pembrontakan yang diadakan oleh Muawiyah Bin Abu Sufyan yang menolak kekuasaan Ali bin Abi Thalib. Muawiyah menurut Ali untuk melakukan pengusutan tuntas terhadap pembunuhan Utsman yang merupakan karibnya. Puncaknya terjadi perang saudara antar umat muslim “perang Shifin”. Sampai nanti pada puncaknya terjadi peristiwa yang menyedihkan dengan terbunuhnya cucu nabi Hussein bin Ali ditangan kekuasaan Yazid bin Muawiyah.

Akibat dari permasalahan politik yang membelit dan konflik yang tidak berkeseduhaan di kalangan umat islam, maka munculan persoalan teologi, yaitu tentang iman dan kekufuran bagi pelaku dosa besar yang dicetus oleh oleh kaum Khawarij. Bagi khawarij, Ali dan pendukung konflik adalah pelaku dosa besar karena tidak mengambil keputusan berdasarkan hukum Allah Swt, sehingga mereka dicap kafir.

Pernyataan Khawarij ini nantinya menimbulkan aliran baru, yaitu aliran Murjiah, yang mengatakan bertolak belakang dengan aliran Khawarij. Menurut mereka, pelaku mereka yang terlibat konflik dan mempunyai dosa tetap menjadi seoarang mukmin, masalah dosa menjadi urusan Allah. Reaksi dari dua aliran yang saling kontra ini menimbulkan aliran baru yaitu Mu’tazilah. Menurut Mutazilah, pelaku dosa besar bukan mukmin bukan pula seorang kafir, tempatnya orang yang melakukan hal tersebut diantara keduanya (al manzilah bainal manzilatain)(Ahmad Zaeny, 2011:95).

Aliran Mu’tazilah atau Qadariah lahir pada akhir masa kekuasaan Daulah Umayyah. Paham ini lahir di negeri Irak, tepatnya di Babil Lama. Daerah tersebut dikenal sebagai tempat berakulturasinya etnis Persia dengan etnis semit, yang tidak lama setelah itu menjadi kiblat ilmu dan menjadi pusat pemerintahan Abbasiyah. Von Kremer berpendapat, paham ini berkembang dan menyebar di Damaskus, Suriah, berkat pengaruh para agamawan Bizantium, terutama Yahya Ad Dimasyqi dan muridnya yang bernama Teodore Abu Qurah.

Nama lain dari Mu’tazilah adalah Qadariah, dan nama ini lebih populer dari nama yang pertama. Nama Qadariah ini masih terkait pada paham para penganutnya yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak, atau dengan kata lain, kehendak manusia itu bersifat bebas tidak terikat Qadha dan Qadar.

Mu'tazilah sendiri berkembang pada awal Dinasti Muawiyah. Corak kekuasaan Muawiyah yang mementingkan kekuasaan politik sehingga keadaan kaum mu’tazilah itu sendiri kurang begitu penting dianggap. Dinasti Muawiyah sendiri menganggap kaum Mu’tazilah bukanlah kaum yang membahayakan kekuasaan, sehingga mereka dibirkan hidup bebas.

Pada masa Dinasti Umayyah, dunia filsafat mulai menampakan diri ketika waktu itu khalifah Abdul Malik Ibn Marwan menjadikan Alexandria yang merupakan bekas pusat pengetahuan yunani, rowami, dan mesir, serta wilayah Antitoch dan Bactra menjadi kota-kota pusat pengetahuan pada kekuasaannya. Khalifah Abdul Malik berusaha tetap meneruskan tradisi pengetahuan yang ada di dunia tengah. Secara tidak langung,  hal ini nantinya memberi kan pengaruh yang cukup besar bagi pemikiran umat Islam pada masa itu(Jumal Ahmad, 2017:10).

Banyak dari pemuka agama dan para cendikiawan Islam yang mulai terpengaruh dengan  dunia filsafat yang lebih banyak menekankan untuk menggunakan rasio dan akal, sehingga pada masa ini, mulai terjadi pembauran antara ajaran Islam dan filsafat Yunani tersebut. Dengan dibukanya keran pengetahuan membuat aliran Mu'tazilah mengalami pertumbuhan pada masa itu.

Jatuhnya Dinasti Muawiyah dan munculnya Dinasti Abbasiyah membuat Mu'tazilah sendiri mendapatkan keistimewaan oleh para penguasa Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah, menyumbang peranan penting dalam kemajuan peradaban dunia islam, terutama dalam hal ini soal pengalihan bahasa dan terjemahan dari karya-karya klasik pengetahuan di dunia tengah yang dominan menggunakan bahasa Yunani Pekerjaan menerjemahkan sendiri itu sebenarnya sudah ada pada masa Dinasti Umayyah. Namun kegiatan penerjemahan itu sendiri jauh lebih semarak dibawah Abbasiyah.

Para khalifah dari Dinasti Abbasiyah mengambil peranan penting dalam penerjemahan banyak karya. Khalifah Al-Makmun, ia mendatangkan begitu banyak cendekiawan dari berbagai macam ilmu untuk datang ke Baghdad. Selain itu, ia mengirimkan utusan-utusannya untuk mencari buku-buku pengetahuan dari negeri Romawi untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab. Khalifah selanjutnya tidak ingin ketinggalan juga,  Khalifah pengganti Al-Makmun, Harun ar Rasyid,  Dia mendirikan perpustakaan dan mengatur gerakan alih bahasa ke dalam bahasa Arab. Pada masa itu Baghdad mencapai puncak keemasan dan menjadi pusat peradaban pengetahuan islam . 

Kebijakan para penguasa yang pro terhadap pengetahuan serta penciptaan ekosistem membuat paham Mu'tazilah sendiri tumbuh subur. Kehausan mereka terhadap pengetahuan diwadahi langsung oleh penguasa. Pada puncaknya Khalifah al-Ma’mun yang cinta akan ilmu pengetahuan menjadikan Mu'tazilah ideologi resmi negara.

Sumber:

  • Ahmad Zaeny. 2011. Idiologi dan Politik Kekuasan Kaum Mu’tazilah. Jurnal TAPIs Vol.7 No.13 Juli-Desember.
  • Jumal Ahmad. 2017. Muktazilah: Penamaan, Sejarah dan Lima Prinsip Dasar(Ushul Al-Khamsah). UIN Jakarta.
  • Ansayar, Tamim. 2012. Dari Puncak Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Jakarta: Zaman
  • https://wawasansejarah.com/aliran-mutazilah/

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Lengkap Mu'tazilah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel