Sumbangsih Mu’tazilah dalam Peradaban Islam

Mu’tazilah sendiri pada masanya menghadapi konflik dengan golongan yang berbeda-beda. Konflik yang pertama terjadi adalah dengan kelompok tradisionalis yang melakukan pendekatan terhadap teolog bersifat tekstual. Golongan-golongan ini bisa dikatan sebagai golongan ortodoks atau tradisionalis.

Konflik kedua Mu’tazilah terjadi ketika munculnya golongan Asy’ariyah. Golongan ini muncul sebagai reaksi ajaran yang menyimpang dari Mu’tazilah itu sendiri. Pendiri Asy’ariyah pun tadinya merupakan seorang Mu’tazilah. Ia merasa tidak puas dengan ajaran Mu’tazilah. Mereka berusaha menanamkan hegemoninya di tingkat penguasa atau pun di tengah-tengah masyarakat.

Mu’tazilah sendiri dikenal sebagai kelompok yang yang melakukan pendekatan rasionalis terhadap penafsiran Al Quran. Mereka percaya bahwasannya dengan penggunaan pikiran maka akan mencapai iman yang benar. Mereka memakai tradisi-tradisi filsafat Yunani dalam pemahaman teologi mereka. Selama beberapa masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Mu’tazilah mendapatkan keistimewaan.

Terjadi hubungan simbiosis antara keduanya. Keduanya melahirkan persatuan politik dan pemikiran rasional yang mana nantinya akan membawa islam pada zaman keemasan. Dimana banyak pemikir-pemikir islam dalam berbagai macam ilmu pengetahuan mulia bermunculan dan berpengaruh hingga saat ini. Karena mereka memberikan sumbangsih besar dalam ilmu pengatahuan manusia.  Pemerintahan islam yang berada di Baghdad menjadi pusat pengetahuan terkenal di dunia pada masanya. Salah satu ikon terkenal dari Baghdad adalah Bait al-Hikmah.

Para pemikir barat serta ilmuwannya banyak mendapatkan pengaruh dari para pemikir islam yang memperkenalkan paham rasionalisme. Pengaruh tersebut didapatkan ketika terjadinya interaksi antara orang barat dan islam pada masa perang salib. Pada masa inilah orang-orang barat sadar bahwasannya mereka tertinggal jauh dalam bidang pengetahuan.

Mereka lalu mulai mempelajari pengetahuan dari dunia islam. Dengan menyerap ilmu pengetahuan dari timur(islam), maka dunia barat yang tadinya gelap gulita karena kekuasaan gereja begitu kuat dan mengakar, mulai mengalami Renaissance. Disinilah terlihat hasil interaksi dengan peradaban islam, dunia barat mulai tercerahkan dengan ilmu pengetahuan.

Kesadaran akan ilmu ini sendiri membuat orang-orang barat sadar harus lepas dari kungkungan gereja. Renaissance sendiri menandakan kelahiran abad kejayaan bangsa barat. Secara tidak langsung rasionalisme dan pengetahuan yang dicapai oleh kaum Mu’tazilah telah menginspirasi bangsa barat untuk belajar. Sayangnya proses kemajuan barat pada waktu itu ditandai dengan mulai menurunnya pengaruh peradaban islam. Disini juga ditandai dengan mulai hilangnya pengaruh dari kaum Mu’tazilah.

Berakhirnya sejarah Mu’tazilah pada masa abad pertengahan tidak benar-benar membuat mereka hilang begitu saja. Pelaku-pelaku sejarahnya boleh saja telah tiada. Namun pemikiran mereka tetap hidup dari zaman ke zaman. Pada masa sekarang ini ditengah kondisi umat islam yang cenderung bersifat tradisionalis dan amat kaku terhadap pengetahuan barat berupa sains dan teknologi membuat beberapa kalangan umat islam merasa gerah dan merasa harus mengejar ketertinggalan dari dunia barat.

Salah satu tokoh terkenal dalam memperkenalkan paham Mu’tazilah pada abad modern adalah “Prof. Dr. Harun Nasution yang menjadi kontroversi, karena gagasannya membangun suatu teologi islam yang rasional atas dasar pemikiran Neo-Mu’tazilah dari Muhammad Abduh”. Prof Dr Harun Nasution melihat bahwasannya kemunduran umat islam khususnya di Indonesia karena begitu kuatnya paham tradisionalis yang direpresentasikan dengan kehadiran teologi asy’ariyah yang menurutnya begitu kuat sifat jumud dan mudah menyerah pada takdir. 

Ia menegaskan bahwasannya perlu adanya gerakan pembaharuan dalam tubuh umat islam khusunya islam di Indonesia. Ia menggemakan perlu adanya kembali pemikiran filosofis serta pemikiran rasional dikalangan umat islam. Hal perlu dilakukan untuk memecahkan masalah umat dalam berbagai macam aspek. Sama seperti pemikiran Mu’tazilah dalam beragama diperlukan akal untuk mencari kebenaran yang ada.

Akal ini juga digunakan untuk mengggali ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah begitu lama ditinggalkan kalangan umat islam. Gerakan pembaharuan yang bersifat modern dan terbuka muncul di berbagai kalangan umat islam di dunia. Gerakan ini sendiri bertujuan untuk memajukan umat islam secara sosial dan sepiritual. Ini menjadi bukti bahwasannya pemikiran Mu’tazilah tetap hidup disetiap zaman dan menjadi salah satu solusi permasalahan di kalangan umat islam.

Sumber:

Belum ada Komentar untuk "Sumbangsih Mu’tazilah dalam Peradaban Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel