Pemikiran Industrialisasi ala Teknolog

Potret Habibie Ketika Menjadi Menteri
Salah satu teknolog terkenal dan mempunyai posisi penting pada masa Orde Baru adalah B.J Habibie. Yang membedakan antara Habibie dengan generasi teknolog sebelumnya adalah pola pembangunannya serta pendekatannya dalam industri. Generasi pertama diwakili oleh A.R Soeoed sebagai menteri perindustrian (1978-1983).

Ia membangun industri dari yang dasar terlebih dahulu dengan konsepnya yang terkenal adalah hulu-hilir. Industri yang dikembangkan sendiri bersifat padat modal, yang bertujuan untuk untuk menghasilkan bahan baku industrial (industrial raw materials) bagi industri hilir[1]. Tujuan utamanya terciptnya industri yang terintegrasi.

Setelah itu, tampuk kekuasaan menteri perindustrian jatuh pada Hartarto. Ia dikenal sebagai sosok yang menggeluti bidang teknik kimia. Dengan latar belakangnya tersebut, ia memiliki strategi enam strategi utama dalam kebijakannya sebagai menteri: (1) pengembangan struktur industri;(2)mengembangkan industri mesin dan elektronik;(3)mendorong industri kecil;(4)mendorong industri orientasi ekspor;(5)mengembangkan riset dan penetian;(6) mengembangkan kewirausahaan[2].

Sedangkan Habibie yang menjabat sebagai menristek lebih menekankan pada pengembangan industri berteknologi tinggi. Industri ala Habibie lebih ditekankan kepada pengembangan SDM dan pengusaan teknologi. Dimana hal ini akan melahirkan produk yang mempunyai added value yang tinggi. Industri canggih ala Habibie ini akan menarik industri-industri penunjang yang ada dibawahnya. Hal ini tentunya berkebalikan dengan A.R Soehoed dan Hartarto.

Namun pada dasarnya strategi industri yang mereka tempuh mempunyai kesamaan yaitu Indonesia berusaha kuat untuk menguasai teknologi serta terjadinya pengintegrasian antar industri. Selain itu, untuk membangun industri yang kuat dan terciptanya kemandirian dalam bidang industri (tidak bergantung pada barang modal).

Dalam strategi pembangunan teknolog dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama adalah pembangunan industri dimulai dari industri dasar dan dari sana bisa diturunkan industri turunannya. Hal ini terlihat persis dengan pemikiran A.R.Soehoed serta Hartarto.

Kedua pembangunan industri canggih terlebih dahulu yang mana nanti menarik gerbong industri lainnya dengan produktivitas dan teknologi canggihnya. Hal ini persis dengan pemikiran Habibie. Tentunya strategis diatas dibutuhkan dukungan pemerintah baik dalam hal ini, intervensi pemerintah (proteksi) dan birokrasi yang efektif untuk menunjang strategis industrialisasi para teknolog[3].

Dalam hal itu kemampuan negara-negara berkembang untuk mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi maju berbeda satu sama lain. Di satu sisi terdapat negara-negara industri baru (NIB) di Asia Timur, khususnya Korea Selatan dan Taiwan, yang ternyata bukan hanya mampu mendekati, tetapi kadang-kadang mampu melampaui tingkat penggunaan teknologi terbaik (best practice norms) yang telah dicapai perusahaan-perusahaan manufaktur di negara-negara maju[4].

Hal ini dipengaruhi oleh persaingan produk manufaktur secara internasional yang membuat perusahaanperusahaan berusaha beroperasi dengan efisien dan terus meningkatkan mutu produknya. Hal ini didukung dengan adanya dukungan pemerintah dalam berbagai kebijakan, serta pengembanga research and development[5].


Sumber:

  1. Thee Kian Wie, Pengembangan Kemampuan Teknologi Industri di Indonesia. Jakarta: UI-Press. 1997, hlm. 19
  2. Yuda B.Tangkilisan, “The Imposibble is Possible: Hartarto Sastrosoenarto and Industrialization in Indonesia 1983 – 1993”, Tawarikh: International Journal for Historical Studies, (4)1 2012, hlm. 93
  3. Prof. Dr. Boediono. Ekonomi Indonesia Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Mizan, hlm. 136-137
  4. Thee Kian Wie., Op.cit, 1997, hlm. 7
  5. Ibid., hlm 14-15

Belum ada Komentar untuk "Pemikiran Industrialisasi ala Teknolog"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel