Peran Musso dalam Kebangkitan PKI

Munawar Musso, sosok yang tak asing bagi literatur Sejarah Indonesia. Namanya tercatat sebagai petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI). Ya, berbicara tentang Musso tentu tidak bisa melepaskan kiprahnya di PKI. Musso tidak hanya berperan dalam pemberontakan PKI 1926 dan pemberontakan PKI 1948, Ia juga sangat berpengaruh terhadap pergerakan golongan kiri di Indonesia. Lantas bagaimanakah kiprah Musso dalam gerakan kiri Indonesia, khususnya dalam tubuh Partai Komunis Indonesia?

Masa Muda Musso

Sebelum membahas peran Musso, mari sedikit membicarakan asal-usul dan masa mudanya. Karena disinilah kita akan mengetahui mengapa Musso menganut faham komunis hingga akhir hayatnya.  Musso Lahir di Desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kediri, Jawa Timur.  Siapa sangka tokoh komunis ini semasa kecilnya adalah anak yang rajin pergi ke surau. Karena Ia berasal dari kalangan cukup berada, Musso remaja (16 tahun) menempuh sekolah di Batavia. Setelah tamat pendidikan di Batavia, Musso melanjutkan kuliah di Buitenzorg, Versi lain menyatakan Musso bersekolah di HBS (Hoger Burger School) yang terletak di Surabaya. Ketika berada di Surabaya, Musso indekos dirumah Tjokroaminoto dan bertemu dengan Soekarno, Kartosuwiryo, hingga H.J Sneevliet. Disitulah awal Musso bersinggungan dengan Ideologi Komunis.

Sneevlit yang membawa ide komunisme kerap berdiskusi dengan murid-murid Tjokroaminoto, termasuk dengan Musso. Kemudian, Musso dan Alimin turut serta menjadi kader partai yang didirikan oleh Sneevlit yaitu Indische Social-Democratische Vereeniging (ISDV) yang berhaluan komunis. Musso pula lah yang menjadi perantara Sneevlit dalam memasukan gagasan sosialis dalam tubuh Sarekat Islam. Melihat basis masa partai Sarkat Islam, Sneevlit melihat peluang besar dalam mengembangkan ideologi yang ia bawa.

Sejak bergabung dalam Sarekat Islam, Musso yang masih sangat muda sudah terlibat dalam gerakan Sarekat Islam Afdeling B di Cimareme, Garut, Jawa Barat. Pada tahun 1919 ratusan petani disana berontak melawan penguasa kolonial Belanda. Namun gerakan itu gagal, banyak pemberontak yang tewas dan ditangkap.  Musso dan Alimin termasuk salah satu orang yang ditangkap oleh pemerintah Belanda. Setelah bebas dari penjara, Musso mengumumkan berdirinya Partai Komunis Batavia. Samaoen  juga mendirikan Partai komunis Hindia yang kemudian berubah menjadi Partai Komunis Indonesia pada tahun 1920.

Pembubaran PKI pada tahun 1927 

Berbagai aksi pemogokan yang dilancarkan atas komando PKI mengalami kegagalan. Sebagai imbasnya, pada tahun 1924 Pemerintah Hindia Belanda memperketat pengawasan dan mempersempit ruang gerak para tokoh partai serta aktivitasnya. Pada tahun 1925 Para petinggi PKI diasingkan. Darsono diusir ke luar Indonesia, Aliarcham dibuang ke Digul, sedangkan Musso, Alimin dan Tan Malaka terpaksa menyingkir ke luar negeri. Sardjono bersama-sama dengan para pemimpin PKI yang masih bebas, seperti Budisutjitro, Sugono, Suprodjo, Marco dan lainnya pada tanggal 25 Desember 1925 mengadakan rapat di Prambanan untuk membahas situasi terakhir yang semakin mengancam keberadaan PKI. Rapat memutuskan mengadakan pemberontakan untuk menegakan Negara Soviet Indonesia.

Pemberontakan akan dimulai pada tanggal 18 Juni 1926. Rencana Pemberontakan ditolak tegas oleh Tan Malaka, salah satu tokoh kiri yang aktif dalam pergerakan Indonesia. Tan Malaka memprediksi bahwa pemberontakan akan gagal karena menurutnya basis kaum proletar rakyat Indonesia adalah petani bukan kaum buruh seperti Soviet. Maka konsep negara komunis seperti Soviet tidak cocok dianut di Indonesia. Akibat dari pendapatnya, Tan Malaka di cap kontra revolusi oleh golongan kiri lainnya, seperti Alimin dan Musso. Meskipun pada saat itu Alimin dan Musso sedang tidak berada di Indonesia, mereka adalah arsitek dibalik pemberontakan PKI 1926.

Pada November 1926, PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik di wilayah Jawa Barat dan Sumatera Barat. Suatu aksi yang kelewat berani pada masa itu, mengingat Pemerintah Hindia Belanda yang tak segan memberangus para pemberontak. Pemberontakan yang dinilai tidak matang itu, dihancurkan dengan brutal oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Ribuan simpatisan dibunuh, sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dipenjara, sekitar 1.308 diasingkan, dan 823 kader diasingkan ke Boven Digul. Puncaknya pada tahun 1927, PKI dinyatakan terlarang oleh Pemerintah Hindia-Belanda.  Pada masa awal pelarangan, PKI tidak jua mati, melainkan bergerak di “bawah tanah”. Pada tahun 1935, Musso kembali ke Indonesia setelah kabur ke Rusia saat pemberontakan PKI 1926. Musso menata kembali PKI dalam gerakannya di bawah tanah. Namun Musso hanya tinggal sebentar di Indonesia. PKI kemudian diam-diam bergerak di berbagai front, seperti  Gerindo dan serikat-serikat buruh.

Kembalinya Musso dan Gerakan Kiri yang sedang Melemah 

Musso kembali pada tahun 1948 dengan menyamar sebagai sekretaris Soeripno dan menggunakan nama samara Soeparto. Kembalinya Musso bagi gerakan kaum komunis Indonesia memiliki arti politis yang penting.  Pada saat itu orang-orang kiri tergabung dalam satu naungan yang bernama Front Demokrasi Rakyat (FDR). Front ini terdiri dari Partai sosialis, PKI, Pesindo, Serikat organisasi buruh seluruh Indonesia, dan Barisan Tani Indonesia. FDR merupakan oposisi pemerintah yang dipimpin oleh Amir Syarifudin. Asal muasal pembentukan front ini adalah buah dari kekecewaan golongan kiri yang "terdepak"dari tampuk kekuasaan akibat dari perjanjian Renville. Kedatangan Musso menjadi angin segar bagi sebagian dari mereka yang telah kehilangan kekuasaan dan basis masa.

Musso kemudian mengkritik jalan politik FDR yang dinilai telah melakukan kesalahan karena tidak memilih jalan anti Imperialis yang konsisten dan tidak memegang kendali revolusi. Yang artinya berunding dengan Belanda di perjanjian Renville adalah suatu kesalahan. Bagi Musso, Kaum komunis harusnya menuntut kemerdekaan penuh, yakni kemerdekaan 100%. Untuk memperjuangkan hal itu, tambuk kepemimpinan harus berada pada tangan komunis, bukan pada kaum “Borjuis komprador” yang tidak dapat dipercaya. Menurut Musso, Indonesia harus bekerja dengan Uni Soviet.

Setelah melancarkan kritik pedasnya, bersama FDR Musso menyelenggarakan berbagai rapat. Salah satu rapat diadakan di Yogyakarta dan dikunjungi oleh kurang lebih 50.000 orang. Dalam rapat tersebut Musso mengusulkan agar menentang perjanjian Linggar jati dan Renville serta harus melakukan hubungan diplomatik dengan Rusia. Kritik-kritiknya diterima dan disetujui oleh mayoritas anggota FDR. Bahkan partai Buruh Indonesia dan partai sosialis dengan sukarela menyatukan diri dengan PKI. Front Demokrasi Rakyat kemudian dibubarkan dan diganti dengan PKI.

Pada tanggal 31 Agustus 1948 Musso berhasil mengubah organisasi PKI secara signifikan.  PKI yang awalnya hanya berjumlah  3000 orang kemudian bertambah 10 kali lipat menjadi 30.000 orang setelah partai sosialis dan partai buruh begabung dengannya. Musso berhasil membubarkan FDR yang dinilai tidak solid dan kemudian menggantinya dengan kekuatan komunis baru yang dapat dikendalikan secara sentral. Pada awalnya integrasi partai-partai kiri dibawah naungan PKI berjalan dengan lancar. Namun ada organisasi dan partai yang semula bergabung dengan Front Demokrasi Rakyat, tidak mau bergabung dengan PKI. Barisan tani yang berada dibawah naungan Partai Sosialis Indonesia dan Perserikatan Buruh yang berada dibawah SOBSI tidak setuju atas pemfusian diri kedalam satu wadah yakni PKI. Dalam Internal partai komunis Indonesia sendiri terdapat beberapa kader yang tidak menyetujui perubaha masif tersebut. Mereka beranggapan anggota  baru yang sangat banyak itu tidak seluruhnya dilatih melalui kaderisasi yang baik.

Meskipun demikian, PKI tetap menjadi kekuatan besar. Setelah menghimpun masa, misi selanjutnya adalah pembentukan negara Indonesia Soviet. Misi itu meletus pada tahun 1948 di Madiun. Sejarah mencatatnya sebagai pemberontakan PKI 1948. PKI mengulang kembali sejarahnya di tahun 1926, pemberontakan tersebut mengalami kegagalan. PKI yang baru bangkit, harus hancur kembali.

Smber:
1. Seri buku Tempo. 2011. Musso: Si Merah di Simpang Republik. Jakarta: Gramedia. 
2. Soetanto, Himawan. 2006. Madiun dari Republik ke Republik. Jakarta: Penerbit Kata Hasta  Pustaka.
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Musso




Belum ada Komentar untuk "Peran Musso dalam Kebangkitan PKI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel