Perjalanan Hidup BJ Habibie Muda dan Pemikirannya

Ketika berkuliah di Jerman Habibie merupakan sosok yang terlihat tidak mau ikut campur tangan politik. Ketika menjadi pimpinan PPI Aachen sejak 1957, Habibie lebih fokus pada penyampaian gagasan pembangunan untuk Indonesia melalui wadah PPI. Habibie adalah golongan mahasiswa yang tak memusingkan soal ideologi, politik, dan tak punya ambisi pada urusan tersebut. Ia sosok yang lebih senang berdiskusi tentang pembangunan[1].
Potret Habibie Muda di Jerman
Sepanjang Agustus 1960 hingga Februari 1962, fokus utama Habibie adalah studi S-3-nya[2]. 65 Habibie juga sudah tidak menjabat sebagai ketua PPI Aachen. Pada masa itu juga, Presiden Soekarno menetapkan Manipol USDEK haluan negara Republik Indonesia. Hal ini membuat Habibie dan kawan-kawan mahasiswanya gelisah.  Hal ini disebabkan karena terjadinya perpecahan antara mahasiwa yang pro dengan Pancasila dan pro dengan dengan Manipol-USDEK[3].

Ketika sudah menyelsaikan gelar doktornya pada tahun 1965 ia berencana kembali ke Indonesia. Namun situasi politik di tanah air tidak memungkinkan dia pulang. Ia akhirnya menunda kepulangannya dan tetap berada di Jerman.

Tidak pulangnya Habibie ke Indonesia membuat ia membangun karir dan bekerja di industri Jerman khususnya bidang industri dirgantara. Pada bidang inilah Habibie mempunyai reputasi yang baik. Mengantarkanya dalam karir cemerlang dalam industri Jerman dan dipandang sebagai orang yang jenius.

Habibie bergabung dengan Hamburg Flugzeugbag (HFB) dan ditugaskan dalam proyek desain Fokker’s F-28 dan Dorniers DO-31. Sebagian besar karyanya adalah penelitian dalam bidang dirgantara. Ia menghabiskan sebagian waktunya di laboratorium penelitian berjuang dengan formula matematika, beberapa artikel ia diterbitkan dalam jurnal-jurnal terkemuka[4].

HFB dengan Messerschmitt-Boelkow-Blohm (MBB) pada tahun 1968 membuat ia ke posisi yang lebih tinggi. Ia bertangggung jawab untuk merencanakan dan mengawasi manufaktur besar MBB, yang mana MBB berpartisipasi dalam Airbus A- 300B.

Saat mengembangkan program ini, Habibie mengembangkan formula untuk memprediksi perilaku perambatan retak di pesawat di tingkat struktur atom, sebuah pencapaian yang membuat Habibie mendapat julukan sebagai “Mr.Crack”. Terobosan ini membuat menghemat waktu dan dalam mendesain pesawat. Mengingat keberhasilan ini, Habibie diangkat sebagai wakil presiden dan direktur aplikasi teknologi pada tahun 1974, posisi tertinggi diberikan orang asing dalam sejarah MBB[5].

Habibie ketika tiba di Jerman, melihat pembangunan ekonomi Jerman pasca Perang Dunia II. Industri Jerman yang hancur akibat perang perlahan mulai bangkit kembali. Kebangkitan ini mempengaruhi Habibie memandang pembangunan ekonomi. Melihat ini ia berkeyakinan bahwasannya pengalaman Jerman bisa diterapkan di Indonesia. Pengalaman di negeri orang ini menentukan pandangan-pandangan Habibie akan banyak hal. Terutama dalam hal ini model pembangunan ekonomi[6].

Dalam hal ini Habibie tidak melihat faktor historis negara Jerman sendiri. Jerman sebelum Perang Dunia II merupakan salah satu raksasa industri manufaktur Eropa. Berbeda dengan Indonesia merupakan negara yang sepanjang sejarahnya lebih mengembangkan industri perkebunan. Jerman mulai bangkit pada tahun 1960 dengan mengalami penigkatan ekonomi luar terutama dalam hal industrinya. Hal ini didorong dengan adanya etika kerja yang kuat, hubungan kerja yang harmonis, manajemen yang baik, investasi yang baik, permintaan domestik dan internasional yang terus meningkat, dan reputasi produk sektor manufaktur diberbagai bidang[7].

Jerman pada dasarnya sudah memiliki budaya yang kuat dan sejarah yang mengakar dalam bidang industri manufaktur. Hal inilah faktor yang membuat Jerman cepat bangkit. Faktor-faktor inilah yang terlihat luput dari pandangan Habibie. Jerman dan Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang berbeda. Oleh karena itu nantinya ide yang dibawa Habibie tidak serta merta bisa diterapkan begitu saja. Dalam perjalanannya gagasan yang dibawa Habibie mendapatkan kritikan sana-sini.

Pada tahun 1973, Presiden Soeharto mengutus Ibnu Sutowo untuk menjemput Habibie di Jerman. Pada Januari 1974, Habibie mendarat di Indonesia. Habibie didatangkan dalam upaya modernisasi Indonesia. Reuni berlangsung di Jakarta pada 28 Januari 1974, Berkenaan dengan pengalaman Habibie di bidang teknologi dan telah mempunyai karir cemerlang, Soeharto meminta Habibie untuk menggunakan kemampuannya untuk membangun negara.

Presiden Suharto meminta syarat bahwasannya setiap kegiatan Habibie tidak boleh mengakibatkan gejolak sosial[8]. Mengingat pada waktu itu, pecah peristiwa kerusuhan sosial malari di Jakarta. Habibie tentunya mengiyakan karena ia sendiri tidak mempunyai afiliasi politik tertentu, ia hanya seorang engineer pesawat terbang dan telah bekerja lama di Jerman.

Pada tahun 1978, Suharto menunjuk Habibie sebagai Menteri Negara untuk Penelitian dan Teknologi dan ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Habibie mempertahankan posisi teratas ini selama 20 tahun dibantu oleh sejumlah teknokrat dalam bidang teknik[9].

Sebelum diangkat menjadi seorang menteri Habibie mengatakan kepada Presiden Suharto, “apa pun yang ditugaskan kepada saya, saya terima. Tapi Bapak sebaliknya tahu saya dibesarkan di negara yang rasional dan lingkungan yang ekonomis di mana yang penting bagi saya adalah sasaran. Semua sistem yang dilaksanakan harus menunjuang tercapainya sasaran dengan pengorbanan yang seminim mungkin. Itu memang cara bekerja saya. Jadi Pak, kalau saya jadi Menteri, itu juga saya laksanakan, tidak bisa diubah”[10].

Hal ini terlihat bahwasannya Habibie merupakan profesional dan pekerja yang mempunyai tujuan dan orientasi yang jelas. Hal ini bisa dilihat bahwasannya pengalaman Habibie di Jerman menentukan pemikirannya serta cara kerjanya.

Habibie merupakan sosok yang disiplin dalam bekerja, ia menekankan pentingnya produktifitas . Hal ini terlihat ketika ia tiba di Nurtanio yang merupakan pabrikan pesawat pertama di Indonesia, Ia berusaha mengubah mindset kerja yang lama dengan mindset kerja yang baru.

“Orang harus rasional dan produktif. Sebelumnya mereka datang dan pergi seenaknya, tidak ada program yang berikan. Tidak ada cara menilai produktivitasnya. Pertama-tama misalnya saya bilang; orang-orang kerja disini hanya 5 hari seminggu. Sabtu Minggu prei. Alasan saya normal. Biar 5 hari dia konsentir. Sabtu dan Minggu dia rileks dengan keluarganya. Senin dia mulai lagi. Karena hal itu menentukan work, kedua: biasanya orang masuk seenaknya, pulang seenaknya”[11].

Disini terlihat, bahwasannya ketika Habibie menjadi seorang pimpinan sebuah organisasi, hal yang paling fundamental untuk mencapai sebuah tujuan adalah pembenahan sumber daya manusia. Budaya disiplin dan produktif ini, ia rasakan selama tinggal dan bekerja di Jerman.

Selain itu Habibie mempunyai pribadi yang pragmatis, ekonomis, dan disiplin. Ia mengatakan, “Saya ini orang yang pragmatis. Kalau saya membangun kapal terbang harus sampai ke pasaran pada waktunya. Kalau tidak, saya akan rugi. Kalau saya kembangkan sesuatu, produknya harus berkualitas tinggi. Kalau tidak, saya rugi. Kalau saya mengembangkan ilmu pengetahuan mestilah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga segala biaya, kualitas, dan jadwalnya saya bisa kendalikan. Itu sudah mendarah daging”[12].

Dalam melihat orang-orang Indonesia Habibie berpandangan bahwasannya mereka bukan merupakan problem sosial. Ia melihat bahwasannya, orang-orang Indonesia ini merupakan potensi nasional. Tentunya, potensi nasional ini digunakan untuk pembangunan bangsa. Ia mengibaratkan, “potensi mereka yang seperti computer sebesar dunia itu jumlahnya banyak. Cuma belum dipakai. Belum tahu sistemnya dan mekanismenya bagaimana”[13].

Selain itu ia mengatakan “Kalau kita melihat suatu persoalan sebagai sosial problem, maka approach untuk mencari penyelsaiannya lain daripada kalau kita melihatnya sebagai suatu potensi”[14].  Ia melihat bahwasannya apa yang dilihat sebagai problem bisa dijadikan sebagai peluang untuk mencapai kemajuan bangsa untuk kedepannnya.

Habibie merupakan sosok professional dibidangnya. Ia merupakan sosok rasional yang mempunyai orientasi kerja yang jelas, serta tujuan kerja yang jelas. Ia menunjukan kepada Presiden Soeharto bahwasaannya ia merupakan sosok yang murni berkarir sesuai dibidangnya dan tidak berafliasi pada ideologi politik tertentu.

Ia juga merupakan sosok yang memperhatikan produktifitas kerja dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Ia juga melihat orang-orang Indonesia sebagai potensi nasional bukan sebagai problem sosial. Semua pandangan serta pengalaman yang ia dapatkan selama tinggal di Jerman, membentuk gagasan dan pemikiran dalam Pembangunan Indonesia. Khususnya dalam memandang pembangunan ekonomi Indonesia kedepannya

Istilah pembangunan ekonomi ala Habibie ini sendiri muncul dalam dalam tulisan Kwik Kian Gie Pada Harian Kompas 4 Maret 1993 yang berjudul “Konsep Pembangunan Ekonomi Prof Habibie”. Ia mengatakan, “Apabila seseorang sudah mempunyai pengaruh dan nama besar, dan orang itu mempunyai konsep ekonomi yang cukup mendasar, konsep ini biasanya disebut dengan namanya sebagai awalan dan ditambah dengan akhiran nomics. Maka Reagonomics, dan Clintonomics, dan sebagainya”[15]. Maka bisa dikatakan disini konsep ekonomi Habibie sebagai “Habibienomics”.

Pemikiran Habibie ini sendiri berangkat dari pembagunan ekonomi yang berorientasikan pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkompeten dan produktif. Dimana pembangunan sumberdaya ini ditunjukan untuk menguasai teknologi canggih. Teknologi canggih ini nantinya diperuntukan untuk membuat industri modern yang berorientasi pada keunggulan kompetitif dan bersifat jangka panjang.

Sumber:

  1. Gina S. Noer. Rudy Kisah Muda Sang Visioner. Yogyakarta: Bentang. 2015., hlm. 184
  2. Ibid., hlm 210
  3. Ibid., hlm 211
  4. Sulfikar Amir, “Symbolic Power in a Technocratic Regime: The Reign of B.J. Habibie in New Order Indonesia”. Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, Vol. 22, No. 1 (April 2007), pp. 83-106, ISEAS - Yusof Ishak Institute, hlm. 86.
  5. Ibid
  6. Ibid
  7. Social Education 57(4), 1993 1993 National Council for the Social Studies, “The Economic Development of Post War Germany”, http://www.socialstudies.org/sites/default/files/publications/se/5704/570405.html
  8. Sulfikar Amir., Op.Cit, 2007. hlm 89
  9. Sulfikar Amir, The Engineers Versus the Economists The Disunity of Technocracy in Indonesian Development. Bulletin of Science Technology Society Jun 10, 2008; hlm. 318
  10. Makmur Makka. Dari Pare-Pare Lewat Achen dan tulisan-tulisan lain. Gapura Media. 1984, hlm 27 (Wawancara Toeti Adhitama Eksekutif, Juli 1979 “Dari Pare-pare Lewat Achen”)
  11. Ibid. hlm 32
  12. Tim Penulis. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pembangunan Bangsa. Jakarta: BPPT. 1992, hlm 844 (Pidato Sebagai Ketua Terpilih ICMI Pada Simposium Nasional dan Muktamar ICMI 7 Desember 1990)
  13. Makmur Makka, Op.Cit. hlm 39
  14. Ibid., hlm 39
  15. Kwik Gian Gie, “Konsep Pembangunan Ekonomi Prof Habibie” (Kompas, 11 Maret 1993), hlm. 4

Belum ada Komentar untuk "Perjalanan Hidup BJ Habibie Muda dan Pemikirannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel