Pro Kontra Habibienomics: Buah Pikir Habibie Untuk Pembangunan Industri Indonesia

Pemikiran industrialisasi ala Habibie sendiri tidak bebas kritik. Para ekonom mengkritik pemikiran Habibie tersebut. Ekonom Kwik Gian Wie mengkritik pemikiran Habibie dalam hal ini merupakan kaum teknolog. Kritik tersebut ada dalam tajuk yang berjudul “Teknokrat, Teknolog, dan Kebijakan Industri”.

Menurutnya, “teknolog rupanya kurang menyadari pentingnya struktur insentif yang tepat untuk mendorong perusahaan-perusahaan manufaktur swasta yang meningkatkan daya saing mereka melalui pengembangan kemampuan teknologi. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh fokus mereka lebih banyak tertuju pada pengembangan industri-industri strategis (IS) di bawah BPIS”[1].

Selain itu Arif Budiman juga mengkritik pemikiran industri ala Habibie tersebut. Dalam tajuk yang berjudul “strategi pembangunan kita”, ia mengatakan, “Bila kita membangun industri dengan teknologi canggih. Pembangunan indusri seperti ini sangat kurang menciptakan lapangan kerja bagi rakyat miskin yang tidak memiliki keterampilan. Maka, ada kemungkinan rakyat kecil akan menjadi korban dari strategi yang mahal ini”[2]. Kritikan ini sendiri berdasar pada kondisi masyarakat pada waktu tersebut. Pengembangan industri strategis ini sendiri mempunyai “aspek trickle down yang sangat sedikit”[3].


Selain itu, menurut Arif Budiman ada aspek internasional yang harus diperhitungkan juga. Ia berpendat, “Misalnya, negara kita, Indonesia. Produk yang memiliki keunggulan komparatif adalah bahan makanan, minyak bumi, kayu tropis, dan tekstil. Kalau kita misalnya, mau meningkatkan diri dengan memproduksikan barang otomotif, maka kita akan menghadapi pesaing berkaliber internasional, yang akan secara kejam berusaha menggilas kita. Lihat saja kasus industri otomotif Hyundae dari Korea Selatan, yang berusaha keras memasuki pasar dunia. Dengan dibantu secara penuh oleh pemerintahnya, hasil usaha ini belum menunjukan ciri-ciri keberhasilan. Hal yang sama terjadi dengan Malaysia, dengan produk mobil Proton Saga-nya[4]”.

Disini bisa disimpulkan bahwasannya negara-negara maju tidak akan membiarkan Indonesia bisa mengembangkan industri strategisnya dan menjualnya ke pasaran internasional. Hal ini tentunya bisa menggangu pengusaaan mereka terhadap pasar.

Ekonom Kwik Gian Gie juga mengkritik gagasan Habibie dalam industrialisasi. Menurutnya, “kalau teori Habibie dijalankan mungkin bisa menyebabkan penghamburan uang dan devisa, tanpa ketahuan ujung pangkalnya. Dengan mengatakan demikian ini, saya tahu persis, bahwa kuantifikasi tidak mungkin bisa lebih daripada angka-angka yang sifatnya futurologist, dan karenanya mau tidak mau mengandung risiko ketidaktepatan. Namun reksikonya adalah calculated risk. Dengan demikian, paling sedikitkan ada gambarannya. Kalau tidak, ada berani membawa negate kita ke dalam eksperimen, tanpa ada gambaran angkanya sedikut pun?”[5].  Disini bisa dikatakan, Kwik mempertanyakan penghamburan uang negara serta penghitungan reksiko secara jelas atas pembangunan proyek-proyek Habibie.

Selain itu Kwik juga mempunyai kritik yang sama dengan Arif Budiman yang mempertanyakan impilikasi dari pembangunan industri ala Habibie yang menekankan loncatan penggunaan teknologi. Ia mengatakan, “teori loncatan yang asal meloncat dan berteknologi tinggi mudah terperangkap ke dalam hobi, sehingga BPPT dirasakan tidak mempunyai trickle down effect pada sektor swasta dalam bidang yang sangat penting dan sangat relevan bagi bangsa Indonesia, yaitu teknologi genetika dan teknologi biologi. Dua teknologi ini dapat memberikan manfaat luar biasa besarnya kepada para petani, peternak, dan nelayan kita, yang merupakan bagian terbesar dari rakyat kita dan sekaligus adalah bagian yang termiskin”.

Terlihat bahwasannya strategi pembangunan industri yang dilakukan Habibie kurang menyentuh lapisan mayoritas bangsa Indonesia. Seperti yang dikatakan Arif Budiman dan Kwik, trickle down effect dari gagasan Habibie sendiri terlampau kecil bagi rakyat Indonesia.

Meninggalkan industri yang bersifat komparatif dan menuju pada industri yang kompetitif sendiri mendapatkan kritik juga dari Begawan ekonomi Prof Sumitro. Bagi Sumitro, prinsip keuntungan komparatif maupun prinsip keunggulan kompetitif saling menunjang[6]. Prof Sumitro juga melontarkan kritik pengembangan industri canggih bertabrakan dengan penyediaan lapangan pekerjaan nasional. Hal ini terlihat sama dengan kritik Arif Budiman, bahwasannya trickle down effect dari strategi Habibie terlampau kecil[7].

Namun tidak sedikut juga tokoh yang mendukung Gagasan Habibie tersebut. Amien Rais membandingkan visi pembangunaan para kaum teknorat terkesan lambat berbeda dengan Habibie yang menurut Amien Rais mengambil jalan pintas atau short cut dalam proses pembangunan. Habibie menurut Amin Rais menginginkan setidaknya 1% bangsa Indonesia menjadi teknolog. Orang-orang ini nantinya akan menguasai teknologi maju. Tentunya hal ini dibarengi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia Indonesia[8].

Gagasan pengembangan dan pembangunan sumberdaya manusia Habibie juga didukung oleh budayawan Soetijipto Wirosardjono. Ia mengungkapkan, bahwa visi misi ekonomi Habibie menyandarkan pada kekuatan sumberdaya manusia yang berkualiatas. Sebuah core kekuatan tenaga terdidik menguasai ilmu pengetahuan, dan terlatih mengusai, menerapkan dan mengembangkan teknologi hendaknya menjadi andalam utama bagi Indonesia bila hendak membangun competitive advantage dalam arena global[9].

Pemerintah juga menurutnya tidak bisa sepenuhnya membiarkan ekonomi dalam keadaan laises faires. Gagasan campur tangan pemerintah terhadap Industri yang dicetuskan oleh Habibie menurutnya harus didukung karena Indonesia dalam rangka melindungi kepentingan nasional dari tantangan globalisasi[10].

Sedangkan bagi H.M. Amin Aziz seorang pelopor ekonomi ekonomi syariah mendukung gagasan Habibie. Menurutnya, pengembangan ekonomi berbasiskan SDM ala Habibie akan mampu mengembangkan dan memelihara sumberdaya alam seefisien dan selestari mungkin. Diharapkan pula, dengan demikian, hasil produksi dan barang dagangan ekspor Indonesia yang awalnya dikuasai oleh resource based dan unskilled based industries, ke produksi yang lebih dominan oleh capital based dan skilled based. Selain itu, diharapkan juga impor Indonesia terhadap capital based dan skilled based industries berkurang karena sudah mampu membuat sendiri[11].

Umar Juro, seorang pengamat ekonomi dan industri juga mendukung gagasan Habibie. Menurutnya, para ekonom seperti Kwik Gian Gie industri high tech hanya menghabiskan dana pemerintah padahal itu belum tentu. Dia memberikan contoh, berkembangnya jasa enjiniring atau rancangn bangun dalam aktivitas pemboran minyak merupakan langkah besar dalam pengalihan keuntungan dari tenaga ahli asing kepada tenag ahli domestik[12]. 

Selain itu, ia berpendapat, Impilikasi “Habibienomics” dapat lebih luas dari sekedar pengembangan industri berteknologi canggih, tetapi dapat mencakup dimensi pemerataan pembangunan. Dengan intinya pada pengembangan sumber daya manusia maka implikasi langsung “Habibinomics” adalah peningkatan keterampilan pekerja tidak saja dalam tingkatan insinyur, tetapi juga politeknik dan STM[13].

Sumber:

  1. Kwik Gian Gie, “Teknokrat, Teknolog, dan Kebijakan Industri” (Kompas, 28 Februari 1996), hlm.4
  2. Arief Budiman, “Strategi Pembangunan Kita: Dari Widjojo ke Habibie?” (Kompas, 2 April 1993), hlm 4
  3. Ibid
  4. Ibid
  5. Op.Cit, Kwik Gian Gie.
  6. M. Dawan Rahardjo. Habibienomics telaah ekonomi pembangunan Indonesia. Jakarta: Pustakan Indo. 1997, hlm 47
  7. Ibid., hlm 49
  8. A.Makmur Makka(penyunting). 60 Tahun B.J. Habibie. Jakarta: Pustaka Cisendo. 1996. Jakarta, hlm 107 (“Visi Habibie” oleh Amien Rais)
  9. Ibid., hlm.151 (“B.J.Habibie: Scientist, Teknolog, dan Patriot” oleh Soetijpto Wirosardjono)
  10. Ibid., hlm. 153
  11. Ibid., hlm 165-166 (“B.J. Habibie Sosok Pemimpin Bangsa Bernafaskan Islam Berwawasan Global” oleh H.M. Amin Aziz)
  12. Umar Juoro, “Impikasi “Habibienomics” (Kompas, 11 Maret 1993), hlm 4
  13. Ibid

Belum ada Komentar untuk "Pro Kontra Habibienomics: Buah Pikir Habibie Untuk Pembangunan Industri Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel