Tahapan Pembangunan Industri Pesawat Terbang ala Habibie

BJ Habibie mengenalkan falsafah pengembangan industri penerbangan di Indonesia dengan istilah bermula dari akhir dan berakhir di awal. Melalui falsafah tersebut beliau mengenalkan konsepsi kurva S pengembangan Teknologi.
Kurva S
Kurva S pengembangan Teknologi ini pertama kali sekali digunakan oleh kalangan insinyur dalam dalam menerjamahkan konsepsi Kondratiev seorang pakar dalam bidang Forecasting ekonomi dari Russia dan Schumpeter dari seorang ekonom yang memandang strategi kemajuan teknologi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi[1].
Tahapan Pembangunan Industri Pesawat Indonesia
Tahapan pertama dalam penguasaan teknologi yaitu alih teknologi. Dalam tahapan pertama ini yang dikejar adalah mempelajari tata cara produksi dari sebuah pesawat. Disini bisa dibilang tahapan awal generasi muda Indonesia untuk mempelajari teknologi canggih dan pada proses akhir akan bisa membuat pesawat sendiri.

 Untuk berhasil pada tahapan pertama ini Habibie bekerja sama dengan CASA perusahaan dirgantara yang berasal dari Spanyol. Sebagai penggerak utamanya dibuatlah Proyek yang Pesawat NC212 yang merupakan pesawat perintis. Dalam tahapan ini, Sasaran strategisnya adalah pengusaaan “Delivery on time and Managing Cost dan Schedule” untuk merakit ribuan komponen yang berasal dari ratusan vendor pelbagai negara[2].

Tahapan kedua dalam penguasaan teknologi adalah integrasi teknologi. Komponen-komponen yang berhasil dibuat oleh SDM Indonesia di integrasikan dalam sebuah produk baru. Penggerak utama adalah program pembuatan pesawat CN235. Kerjasama ini masih dilakukan dengan negara Spanyol.

Pada tahapan ini yang sasaran ditekankan bukan lagi pada tata cara produksi, tetapi tata penguasaan teknologi rancang bangun pesawat terbang, dibuat berbeda, dilakukan secara bertahap, dan tidak mengikuti alur gerak teknologi dari pesawat CASA Spanyol[3].  Penerbangan perdana pesawat ini di Indonesia pada tahun 1983. Pesawat CN-235 ini bisa dikatakan sukses dan laku dipasaran hingga saat ini.

Tahapan ketiga dalam penguasaaan teknologi adalah pengembangan teknologi itu sendiri. Setelah mencapai sasaran pada tahapan kedua maka pada tahapan ini dikembangkan teknologi baru. Disini mulailah Indonesia melepaskan diri dari kerjasama CASA Spanyol. Indonesia mulai membuat pesawat dengan merk sendiri dan teknologi sendiri.

Penggerak utama pada tahap ketiga ini adalah pesawat N-250. IPTN tanpa dibantu oleh CASA telah membuat program rekayasa dan rancang bangun pesawat terbang canggih advanced turoplop fly by wire N250. Pada tahapan ketiga ini Indonesia sudah masuk pada komersialisasi produk pesawat yang dibuat yang disertai dengan pembangunan image industri Indonesia sebagai Original Branding Manufacture(OBM)[4]. Pesawat terbang perdana pada tahun 1995 bertepatan dengan 50 tahun kemerdekaan Indonesia.

Tahapan keempat dalam penguasaan teknologi adalah penelitian dasar. Pada tahapan ini dikembangkan produk-produk baru yang mampu bersaing dengan para pemain besar. Pada tahapan ketiga sendiri terlihat bahwa produk yang dihasilkan lebih ditunjukan untuk mengisi pasaran pesawat yang kurang begitu dianggap oleh pemain besar seperti Boeing atau pun Airbus.

Pada tahahapan ini dibuatlah rencana pembuatan pesawat jet N-2130. Pesawat ini pun direncanakan menggunakan mesin jet yang merupakan teknologi mutakhir yang dimiliki oleh dua pemain besar Boeing dan Airbus. Namun pada praktiknya menemui kegagalan karena Indonesia terkena krisis moneter pada tahun 1997

Sumber:

  1. Rakhendi Triyatna&Andi Alisyahbana. Tiga Dasa Warsa PT Dirgantara Indonesia: tekad yang tak pernah padam. Bandung: PT. Dirgantara Indonesia. 2006, hlm k-42 
  2. Ibid., hlm K-45
  3. Ibid
  4. Ibid

Belum ada Komentar untuk "Tahapan Pembangunan Industri Pesawat Terbang ala Habibie"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel