Berdirinya Negara Sumatera Timur (NST)

 
Langkah awal pembentukan berbagai negara boneka adalah Konferensi Malino yang diprakarsai oleh van Mook pada bulan Juli 1946. Konferensi ini bertujuan memecah belah bangsa Indonesia sehingga menuai kecaman wakil presiden RI, Drs.Moh. Hatta. Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan Agresi Militer I dan berhasil menduduki Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Medan, Brastagi, Tanjung Balai, Seribu Dolok, dan Kabanjahe.

Belanda melakukan pembersihan terhadap para pendukung Republik dan demikian pula laskar-laskar rakyat. Namun, Dewan Keamanan PBB mengecamnya sehingga Belanda terpaksa menghentikan aksinya. Pasukan Belanda kemudian membebaskan para sultan dan kaum bangsawan yang ditawan laskar rakyat, seperti Sultan Langkat dan Asahan serta Raja Tanah Jawa dan Siantar.

Karena wilayahnya telah diduduki Belanda, TNI dan laskar rakyat mengundurkandiri ke pedalaman sambil melaksanakan aksi bumi hangus. pemuka adat Melayu dan China menjadi sasaran kemarahan laskar rakyat. Para pemuka adat Melayu meminta perlindungan kepada Belanda seraya melaporkan bahwa petani-petani Melayu telah diusir dari tanahnya oleh TNI dan laskar-laskar rakyat seperti BHL. Tindakan-tindakan seperti ini mencoreng eksistensi Republik di Sumatera sehingga membuka peluang lahirnya Negara Sumatera Timur (NST).

Pada 30 Juli 1947, diadakan rapat umum di Medan dengan tujuan menuntut didirikannya Otonomi Sumatera Timur. Pertemuan itu dihadiri pula oleh Kolonel Scholten, komandan Brigade Z; Mr. J. Gerritsen, residen Sumatera Timur; dan Dr. J.J. van de Velde, penasihat politik pemerintah kolonial. Djomat Purba yang bertindak sebagai juru bicara pertemuan menyerang pimpinan Republik karena gagal menertibkan kondisi Sumatera Timur.

Ia mengajukan permohonan kepada pemerintah Belanda agar mengizinkan pembentukan Daerah Istimewa Sumatera Timur (DIST) yang otonom. Sebagai persiapan, Djomat Purba menyatakan bahwa tak lama kemudian akan dibentuk Komite DIST. Van de Velde memuji niat ini dan menganggapnya sebagai keberanian rakyat Sumatera Timur menentukan nasibnya sendiri. Rapat umum ini boleh dianggap sebagai embrio pembentukan NST.

Pemerintah Belanda menegaskan bahwa NST hendaknya menjunjung tinggi demokrasi. Pejabat-pejabat Belanda beserta anggota komite DIST menyusun birokrasi pemerintahan NST. Naskah konstitusi NST dipersiapkan di bawah pimpinan Dr.Tengku Mansoer dan komisi teknik dewan, beranggotakan Mr. Djaidin Purba, Tengku Mr. Bahriun, Tengku Hafas, G. J. Forch, G. van Gelder, dan Tengku Ubaidullah.

Dewan Sumatera Timur yang beranggotakan 28 orang terbentuk pada 30 Oktober1947. NST sedianya akan dikepalai oleh seorang wali negara. Pemilihan wali negara dilangsungkan pada 15 November 1947. Hasilnya, Dr. Tengku Mansoer terpilih sebagai wali negara NST. Sementara itu sebagai ketua dewan sementara I dan II,masing-masing terpilih Tengku Bahriun dan C. J. J. Hoogenboom.

Negara Sumatera Timur resmi berdiri pada 25 Desember 1947 berdasarkan dekrit yang dikeluarkan van Mook yang mengangkat status Daerah Istimewa Sumatera Timur sebagai negara. Kendati demikian, proklamasinya baru dilangsungkan pada 29 Januari 1948, dan bersamaan dengan itu Dr. Tengku Mansoer diambil sumpah jabatannya selaku wali negara.

Bendera NST yang berwarna kuning, putih, dan hijau untuk pertama kalinya dikibarkan. Warna kuning melambangkan kemuliaan atau kebesaran, putih melambangkan ketenangan, dan hijau melambangkan kesejahteraan.

Proklamasi NST menuai kecaman pemerintah RI yang menuduhnya sebagai boneka Belanda. Bahkan Muhamad Said merendahkan NST sebagai Negara Nasotontu (Negara Tidak Menentu). Kendati demikian, segenap tuduhan ini dibantah oleh para petinggi NST, walaupun Tengku Mansoer dalam pidatonya mengakui bahwa berdirinya negara tersebut dapat terlaksana berkat bantuan Belanda.

PendirianNST ini sesungguhnya berakar dari ketakutan setelah merebaknya revolusi sosial yang mengacaukan segenap tatanan di Sumatera Timur. Tidak semua pendukung NST adalah pro-Belanda. Tidak sedikit di antara mereka yang pada mulanya adalah pendukung Republik, tetapi terpaksa meminta perlindungan Belanda akibat tidak menentunya situasi masa itu.

Sumber: Ensiklopedia Kerajaan-kerajaan Nusantara oleh Ivan Taniputera

Belum ada Komentar untuk "Berdirinya Negara Sumatera Timur (NST)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel