Kristenisasi Tiongkok dan Pemberontakan Boxer

Kristenisasi Tiongkok dan Pemberontakan Boxer
Dengan dibukanya pintu-pintu bagi bangsa asing, merekaberlomba-lomba untuk masuk sembari membawa kebudayaan mereka dan kemudian juga agama Kristen. Gelombang ma-suknya misionaris ke Tiongkok dimulai sejak akhir abad ke-18, dan semakin bertambah besar di penghujung abad ke-19, dan semakin banyak orang Tionghoa di kota-kota besar dandaerah sekitarnya yang memeluk agama Kristen. 

Sebagian memang masuk Kristen karena percaya pada keyakinan asing yang baru ini, namun kebanyakan beralih agama karena iming-iming subsidi makanan dan uang yang bisa mereka dapat dengan mudah dari para misionaris itu jika mereka mau memeluk agama Kristen. 

Selain itu, banyak juga yang beralih agama demi mendapatkan “kekebalan hukum”, karena pada banyak kasus perselisihan atau kejahatan yang melibatkan pemeluk Kristen, pejabat setempat cenderung membela para pemeluk Kristen meskipun terkadang mereka yang melakukan kesalahan.

Melihat bahwa mereka bisa mendapatkan umat denganmudah, para misionaris juga mendirikan sekolah-sekolahmisi di berbagai tempat di Tiongkok. Misionaris Kalvinis dari Amerika Serikat, Anglikan dari Inggris, atau misionaris Katolik dari Perancis dan Italia berlomba-lomba mencari bocah usia sekolah dasar untuk dimasukkan ke sekolah misi itu, atau untuk dididik menjadi penginjil.

Bagi golongan Tionghoa konservatif, upaya Kristenisasi yang mewabah ini mereka anggap sebagai ancaman terhadap keteraturan. Di dalam hati mereka sudah membenci bangsa asing yang mengalahkan dan mempermalukan Tiongkok, namun kebencian mereka bertambah ketika melihat orang Tionghoa yang berdandan atau bertingkah laku seperti orang asing. 

Bagi kelompok konservatif ini, orang-orang Tionghoa yang semacam ini hanya mempermalukan orang Tionghoa seluruhnya. Apalagi, mereka yang memeluk Kristen demi mendapatkan kekebalan hukum menjadi semakin sewenang-wenang dan menyebabkan orang-orang di sekitar mereka menjadi benci karenanya. 

Maka mereka berusaha gigih untuk mempertahankan identitas mereka sebagai orang Tionghoa. Berbagai perkumpulan didirikan, yang utamanya ditujukan untuk mempertahankan diri dari serbuan budaya dan agama “asing”. 

Perkumpulan yang utamanya berdiri di sepanjang pesisir pantai Shandong ini juga mengajarkan ilmu bela diri, ditambah dengan bumbu-bumbu mistik seperti ilmu kebal senjata dan ilmu sihir. Secara umum, mereka disebut oleh orang asing sebagai “Perkumpulan Petinju” atau Boxers. Organisasi petarung seperti “Perkumpulan Golok Besar” dan organisasi mistik seperti Sekte Teratai Putih menjadi inti dari kelompok boxer ini.

Semakin lama, perkumpulan Boxer ini semakin berani. Karena diyakinkan oleh para “guru-guru” spiritual mereka bahwa mereka akan kebal terhadap senjata tajam, peluru, bahkan tembakan meriam, mereka mulai berkerumun dan berkeliling ke mana-mana, sambil mengumpulkan lebih banyak pengikut. 

Kebanyakan yang mengikuti mereka adalah kelompok pengangguran, buruh kasar, atau petani miskin yang mengungsi akibat kampungnya dilanda kekeringan atau banjir. Seperti layaknya preman, mereka sering menarik uang keamanan dari para pedagang yang takut akan keberingasan mereka, atau takut dicap sebagai antek orang asing.

Jumlah perkumpulan Boxer bertambah, dan tidak hanya laki-laki saja yang memiliki perkumpulan, bahkan perempuan pun juga, seperti Perkumpulan Lentera Merah (红灯照). Mereka juga mengaku memiliki kemampuan supranatural, seperti kebal senjata, dan bisa berjalan di atas air. 

Kelakuan mereka pun juga kurang lebih sama dengan kelompok lainnya, seperti berkeliling dalam gerombolan ke mana-mana, dan membuat keonaran dengan menyerang orang asing, orang Kristen, dan membakar gereja-gerejanya.

Pada tahun 1897 dan 1898, provinsi Shandong dilanda kekeringan yang parah yang disusul dengan banjir bandang. Ribuan hektar lahan pertanian rusak parah. Akibatnya petani kehilangan mata pencaharian mereka, dan terancam kelaparan. Mereka harus mengungsi ke daerah lain untuk mencari makanan. Maka mereka pun terdampar di kota-kota besar, dan menjadi mangsa empuk untuk direkrut oleh perkumpulan-perkumpulan Boxer ini.

Secara garis besar, perkumpulan Boxer ini berhasil meraih dukungan dan merekrut banyak orang, disebabkan oleh karena kebencian mendalam yang dirasakan oleh orang-orang Tionghoa terhadap bangsa asing, diawali dengan hak ekstrateritorial yang membuat mereka kebal hukum setempat dan bisa bertindak semau mereka, dilanjutkan dengan dendam akibat kekalahan beruntun yang diderita Tiongkok dari bangsa-bangsa asing. 

Selain itu, rasa nasionalisme mulai tumbuh di kalangan orang Tionghoa, dan hal ini semakin memperkuat identitas kebangsaan mereka. Ditambah lagi, tersiar kabar burung bahwa orang-orang asing melakukan eksperimen di rumah-rumah sakit misi yang mereka dirikan,dengan menggunakan bocah-bocah Tionghoa sebagai kelinci percobaan mereka. Inilah yang membuat dukungan rakyat semakin besar terhadap perkumpulan ini, dan membuat mereka memandang orang asing dengan penuh kebencian dan rasa curiga.

Tak perlu menunggu lama sampai akhirnya perkumpulan Boxer berbenturan dengan orang-orang asing ini. Pada tanggal 1 September 1897, sejumlah anggota perkumpulan Boxer menyerbu kompleks kediaman misionaris Jerman di Juye, provinsi Shandong, saat para misionaris Katolik ini tengah merayakan hari raya keagamaan. 

Serangan ini memberikan Kaisar Wilhelm II dari Jerman sebuah alasan yang kuat un-tuk menempatkan lebih banyak pasukan di Shandong. Ia juga meminta Tiongkok mengganti rugi atas kerusakan yang ada, dan ditanggapi oleh pemerintah Qing dengan membangun tiga gereja Katolik di Shandong dan menanggung semua biayanya, ditambah dengan ganti rugi sebesar 3 ribu tael perakatas kerusakan atau kehilangan benda-benda yang dijarah oleh orang-orang Boxer.

Sumber:

Republik Tiongkok (1912-1949) Dari runtuhnya Kekaisaran Qing hingga lahirnya republik terkuatan di dunia oleh Michael Wicaksono

Belum ada Komentar untuk "Kristenisasi Tiongkok dan Pemberontakan Boxer"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel