Negara Madura

Berdirinya Negara Madura tidak dapat dipisahkan dari keinginan Belanda yang membonceng kedatangan Sekutu untuk menguasai kembali Madura dan kerjasama mereka dengan salah seorang keturunan bangsawan Madura bernama Raden Adipati Aria Cakraningrat.

Guna menduduki Madura, Belanda mengerahkan sekitar satu
resimen tentara yang terdiri dari gabungan KL (Koninklijk Leger, nama resmi tentara Belanda), KNIL, dan VB (Veiligheids Brigade, semacam polisi tentara rahasia).

Belanda juga menyiapkan suatu pasukan khusus bernama Pasukan Cakra di bawah pimpinan Kapten Muhi, salah seorang bekas perwira Korps Barisan, yang telah ada semenjak zaman kolonial. Pasukan tersebut berkekuatan sekitar 450 orang, terdiri dari para penganggur, buruh-buruh kasar, dan tahanan yang sengaja dibebaskan dari penjara.

Pengintaian dari udara dimulai pada 2 Agustus 1947, tetapi dua pesawat terbang Belanda berhasil ditembak jatuh oleh para pejuang yang bermarkas dekat Kamal. Kapal-kapal perang Belanda kemudian berlabuh di Prenduan serta Ambunten dan menembaki Kalianget.

Pendaratan secara serentak baru dilaksanakan pada 4 Agustus 1947. Tank amfibi dan perlengkapan perang lainnya didaratkan di Kesek (sebelah timur Kamal), Camplong (dekat Sampang), dan Branta (dekat Pamekasan). Persenjataan Belanda saat itu lebih unggul dibandingkan dengan para pejuang yang bersenjata seadanya sehingga tidak mengherankan apabila dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut Belanda dapat mendesak para pejuang ke daerah pedalaman.

Kota-kota di Madura, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan lain sebagainya,satu persatu jatuh ke tangan Belanda. Pasukan Republik mundur dan menyusun pertahanan baru di berbagai lokasi, seperti Arosbaja dan Pagantenan.

Belanda memperkirakan bahwa mereka akan sanggup menguasai Madura dalam waktu seminggu karena musuh yang dihadapi hanya satu resimen tentara Indonesia dan laskar-laskar perjuangan lainnya dengan jumlah keseluruhan sekitar 5.700orang.

Kendati demikian, Belanda mengalami perlawanan yang gigih. Bahkan, pada16 Agustus 1947 malam–sehari sebelum peringatan Proklamasi Kemerdekaan–para pejuang sekonyong-konyong menyerang Pamekasan yang telah dikuasai Belanda secara besar-besaran.

Kaum pejuang berhasil menduduki kota selama beberapa jam. Korban yang berjatuhan di kedua belah pihak boleh dikatakan besar. Pada akhirnya karenakekurangan persenjataan dan bahan makanan, kaum Republikan memutuskan hijrah ke Jawa, yang diikuti pula oleh beberapa aparat pemerintahan.

R.A.A. Cakraningrat yang sebelumnya telah diangkat sebagai residen Madura oleh pemerintah Republik tidak ikut hijrah dan tiba-tiba minta berhenti sebagai pejabat Republik dengan alasan kesehatan. Ternyata sebelum Madura jatuh ke tangan penjajah, ia telah menjalin kerja sama dengan mereka dan mengakui kekuasaan Belanda yang diwujudkan dalam Regerings Commisatris voor Bestuurangelegenheden (Recombaatau Komisi Pemerintah untuk Masalah Administrasi Pemerintahan).
Cakraningrat menuduh bahwa pemerintah Republik telah mengkhianati prinsip-prinsip demokrasi sehingga ia memutuskan hubungan dengan RI. Ia berdalih bahwa orang Madura ingin diperintah oleh bangsanya sendiri. Karenanya, Cakraningrat berkeinginan mendirikan suatu negara terpisah dengan dirinya sebagai pemimpin.

Bahkan, ia tidak keberatan menandatangani kontrak politik dengan Belanda seperti para lelulurnya dahulu, yang artinya menempatkan Madura kembali di bawah perlindungan Belanda. Cakraningrat lalu diangkat oleh Belanda sebagai penguasa yang sah atas pulau tersebut.

Saat itu,daerah Sumenep masih dikuasai oleh para pejuang. Oleh sebab itu, Belanda segera mengerahkan kekuatan militernya ke sana. Rakyat dengan gigih mempertahankan negerinya dari aneksasi Belanda hingga gugurlah beberapa pejuang, seperti K.H.Abdullah Sajjad, Ke Late, dan lain sebagainya. Akhirnya, sisa-sisa para pejuang yang masih bertahan di Sumenep itu dapat dihalau ke Jawa.

Agresi Militer I yang dilancarkan Belanda menuai kecaman dunia internasional sehingga memaksa Belanda kembali ke meja perundingan. Atas dasar itulah, pada 17 Januari 1948 diadakan suatu perundingan di atas kapal perang Amerika Serikat bernama Renville. Oleh karenanya, kesepakatan yang dihasilkan disebut Perjanjian Renville.

Meskipun demikian, seminggu setelah perjanjian itu, Belanda mengadakan pemungutan suara secara diam-diam di Madura, tanpa sepengetahuan komisi pengawas yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Plebisit (jajak pendapat) itu bertujuan menentukan apakah rakyat setuju dengan pendirian Negara Madura atau tidak.

Karena dilaksanakan di bawah tekanan Belanda, kurang lebih didapatkan 95% suara yang mendukung dibentuknya Negara Madura. Berdasarkan hasil plebisit, Letnan Gubernur Jenderal van Mook lantas mengesahkan dibentuknya Negara Madura pada 21 Februari 1948 dengan R.A.A. Cakraningrat sebagai wali negaranya.

Dewan Perwakilan Rakyat Madura dibentuk dua bulan kemudian. Ternyata rakyat memilih 31 orang pro-Republik di antara 40 anggota dewan. Namun, dewan semu ini tidak dapat berfungsi dengan baik karena 20 orang yang berani mendukung Republik diberhentikan dan dipenjarakan oleh Belanda.

Sementara itu, R.A.A. Cakraningrat malah dinaikkan gelarnya sebagai pangeran. Belanda yang masih tidak puas dengan hasil Persetujuan Renville melancarkan Agresi Militer II guna melemahkan Republik pada 18 Desember 1948.

Di luar dugaan, negara-negara boneka mengecam tindakan Belanda itu. Negara-negara lain juga mengutuk keras aksi tersebut dan melakukan boikot terhadap Belanda. Akhirnya PBB memaksa Belanda membebaskan para pemimpin Republik yang ditawan serta mengadakan perundingan lagi dengan RI.

Tingkat kepuasan rakyat Madura terhadap Negara Madura juga makin menurun. Rakyat mulai menyadari bahwa “negara” mereka belum mempunyai undang-undang dasar sehingga tidak layak dianggap sebagai sebuah negara dalam arti sebenarnya.

Selain itu, penyerahan kekuasaan dari tentara pendudukan Belanda ke rakyat Madura tidak kunjung diselenggarakan. Kebebasan mengeluarkan pendapat atau menyuarakan aspirasi boleh dikatakan tidak ada. Belanda melarang pendirian partai politik dalam bentuk apapun.

Kehidupan masyarakat juga tidak tenang karena rakyat terpecah antara penentang dan pengikut Belanda. Peraturan Negara Madura baru disahkan pada September 1949 oleh Recomba sehingga parlemen mulai berfungsi sebagaimana mestinya. Pemerintahan dibentuk dengan melibatkan orang Belanda sebagai kepala departemen keuangan sehingga memperlihatkan ketergantungan negara boneka itu terhadap Belanda.

Faktor lain yang menyebabkan ketidakpuasan rakyat adalah dipegangnya berbagai jabatan strategis oleh kaum kerabat maupun orang kepercayaan R.A.A. Cakraningrat, seperti Mr. Sis Tjakraningrat, putra R.A.A. Cakraningrat, sebagai bupati Bangkalan; Roeslan Tjakraningrat, putra R.A.A. Cakraningrat sebagai sekretaris umum wali negara Madura; Abdul Rachman, kepala Departemen Pemerintahan, Polisi, dan Keamanan Umum Negara Madura, orang kepercayaan R.A.A. Cakraningrat; Kiai Abdoel Hamid Moedlahary, wedono ter berschikking wali negara, orang kepercayaan Cakraningrat; Hasjim Sosrodanuatmojo, kepala Kepolisian Negara Madura, orang kepercayaan R.A.A. Cakraningrat; R.P. Abdoel Azis, ajudan R.A.A. Cakraningrat, keponakan R.A.A. Cakraningrat; R.Ar. Abdul Rahman, wedono Bunder, keponakan R.A.A. Cakraningrat, R.T.A. Zainalfatal, bupati Pamekasan, kerabat R.A.A. Cakraningrat; dan lain sebagainya. Pendukung Republik yang tidak puas merancang gerakan bawah tanah guna membubarkan Negara Madura.

Konferensi Meja Bundar (KMB) diselenggarakan dan sebagai hasilnya terbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari Republik Indonesia dan negara-negara bagian. Rakyat Madura makin merasakan ketidakpuasan pada negaranya.

Mereka menyadari bahwa pembentukan negara boneka tersebut dimaksudkan untuk mengikat mereka secara ekonomi kepada Belanda. Timbul berbagai demonstrasi menuntut pembubaran Negara Madura. Rakyat menuntut agar R.A.A. Cakraningrat mengundurkan diri dan menyerahkan mandatnya kepada bupati Pamekasan, Raden Tumenggung Aria Nataadikusuma, yang selanjutnya diangkat sebagai pejabat residen Republik Indonesia.

Tuntutan rakyat makin menghebat sehingga demi mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk, pemerintah RIS mengesahkan undang-undang yang memperbolehkan pembubaran negara bagian pada 9 Maret 1950. Berdasarkan undang-undang ini, Negara Madura dibubarkan secara damai dan wilayahnya kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

Sebelumnya, pada 9 Februari 1950, R.A.A. Cakraningrat telah menyerahkan kekuasaannya kepada Komisaris RIS. Demonstrasi besar-besaran terjadi di Pamekasan pada 15 Februari 1950 karena DPR Madura (DPRM) dirasa lambat dalam menangani aspirasi rakyat.

Ribuan masyarakat dari berbagai kalangan menyerbu gedung DPRM yang kebetulan saat itu anggotanya sedang bersidang. Mereka menuntut pembubaran secara resmi Negara Madura.

Suasana memanas ketika demonstran memasuki gedung dan menuntut agar DPRM dibubarkan hari itu juga. Mereka sudah tak memercayai lagi “wakil-wakilnya.” Dalam waktu lima menit keputusan harus diambil, bila tidak rakyat akan memberontak. Secara aklamasi seluruh anggota DPRM meletakkan jabatannya.

Mereka lantas bergerak ke rumah R.A.A. Cakraningrat yang ketika itu sedangsakit. Para demonstran ditemui oleh wakil wali negara yang merangkap bupati Pamekasan, Zainal Patah Noto Adi Kusumo. Dia berkata kepada para demonstran,“Enggi mon... ra’yat pon ta’ endha’ dha’ badhana Negara Madura, bula enggi keya.Sarengngan pole se Molja Wali Negara R.A.A. Cakraningrat empon nyerra’ agi kakobasa’anna dha’ Komisaris RISe e tanggal 9 Februari 1950. Bula ngarep sopaja ra’yat bubara kalaban tenang.” (Ya, kalau... rakyat pun tidak mau adanya negara Madura, saya begitu juga. Lagipula Yang Mulia Wali Negara R.A.A. Cakraningrat sudah menyerahkan kekuasaannya kepada Komisaris RIS pada 9 Februari 1950. Saya harap supaya rakyat bubar dengan tertib.”) R.A.A. Cakraningrat kemudian pensiun dari jabatannya.Namun, adiknya yang bernama Ruslan Cakraningrat diangkat sebagai gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) oleh Presiden Soekarno.

Sumber: Ensiklopedia Kerajaan-kerajaan Nusantara oleh Ivan Taniputera

Belum ada Komentar untuk "Negara Madura"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel