Revolusi Sosial di Sumatera Timur


Selama gubernur Sumatera mengadakan perjalanan, Dr. Amir ditunjuk sebagai wakilnya. Namun, ia tak dapat menguasai keadaan. Para pemuda tidak memercaya iniat para sultan dalam menjalankan demokratisasi di kerajaannya. Bahkan Jusuf Abdullah Puar yang mewakili Pesindo menegaskan pada rapat 17 Februari 1946 bahwa setiap kompromi antara Republik dengan kerajaan hanya memperpanjang usia berbagai kerajaan tersebut.

Situasi makin memanas dengan dibentuknya PP(Persatuan Perjuangan) yang menjadi motor pengganyangan terhadap swapraja. Dalam rapat-rapat mereka kerap dibicarakan jalinan kerja sama antara para raja dengan Belanda, pembentukan pengawal bersenjata oleh berbagai kerajaan, dan propaganda-propaganda NICA yang disimpan di istana.

Dr. Amir mengadakan kunjungan pada 27 Februari 1946 guna meredakan suasana. Rombongannya dicegat rakyat di Tebing Tinggi dan Kisaran yang menuntut agar segenap musuh dan penghalang cita-cita kemerdekaan dihabisi. Setibanya di Tanjung Balai, rombongan dijamu dengan ramah oleh Sultan Asahan.

Dalam pertemuan keesokan harinya, sultan berjanji memberikan dukungannya bagi perjuangan. Kendati demikian, 20.000 pengunjung menyerukan agar sultan memperlihatkan bukti nyata bagi janjinya itu. Ketika sampai di Siantar, rombongan Dr. Amir menyaksikan coretan-coretan di tembok yang berbunyi “Raja-raja Mengisap Darah Rakyat” dan “Rakyat Menjadi Hakim.”

Rombongan terus menerus disambut dengan seruan mengganyang kekuasaan para raja. Dr. Amir tiba kembali di Medan pada 2 Maret dan merasa yakin bahwa para pemuda akan menunda aksinya.

Ternyata dugaan Dr. Amir ini meleset karena keesokan harinya meletus revolusi pengganyangan para raja. Selamat Ginting memimpin pasukan terkuat di Karo dan menangkap 17 raja urung (raja-raja kampung besar) beserta sibayak (kerajaan)-nya serta mengasingkan mereka ke Aceh Tengah. Dua orang politisi terkemuka, yakni Nerus dan Nolong Ginting Suka, turut pula ditangkap.

Raja kerajaan Panai, salah satu kerajaan di Simalungun ditangkap oleh laskar Barisan Harimau Liar (BHL), beserta bebeberapa orang pengikutnya ia dibawa ke markas BHL dan dihabisi nyawanya. Keesokan harinya, gerombolan BHL menangkap dan membunuh Raja Raya.

Tempat kediamannya diobrak-abrik dan emas beserta barang-barang berharga lainnya dirampas oleh mereka. Raja Silimakuta kebetulan sedang tak berada di rumahnya yang kemudian dibakar oleh BHL. Raja Purba tertangkap oleh BHL, tetapi dapat dibebaskan olehTRI (Tentara Republik Indonesia). Sementara itu, Raja Silimakuta yang lolos dari pembantaian mendapatkan pula perlindungan TRI.

Pada 3 Maret 1946, massa bersenjata mengepung istana Sultan Asahan di Tanjung Balai. Terjadi baku tembak antara TRI dan polisi yang bertugas mempertahankan istana. Kendati demikian, akhirnya mereka menyerah dan membiarkan istana diserbu oleh massa.

Sultan meloloskan dirinya dan berhasil menyelamatkan diri setelah 17 hari dikejar-kejar oleh laskar rakyat. Para pemuda melampiaskan amarahnya kepadaTengku Musa, pejabat Republik yang dianggap terlalu bersimpati terhadap kerajaan.

Ia beserta istri Belandanya dibunuh secara brutal. Pembantaian juga melanda kaum bangsawan sehingga dalam beberapa hari saja 140 orang menjadi korbannya. Istana kerajaan kemudian diduduki oleh massa. Di daerah Kualuh, massa menyerbu istana sultan di Tanjung Pasir dan seluruh penghuninya ditawan.

Sultan beserta putranya kemudian ditemukan luka berat karena tusukan tombak di sebuah kuburan Tionghoa.Petinggi-petinggi kerajaan lainnya ditangkap dan demikian pula dengan keluarga mereka. Tengku Hasnan dan Tengku Long dipenggal kepalanya oleh laskar rakyat.

Keluarga Kesultanan Serdang luput dari pembantaian. Kapten Tengku Nurdin, komandan TRI di Perbaungan yang masih keturunan bangsawan, mendapat perintah Kolonel Ahmad Tahir agar mengambil alih kekuasaan. Pada 4 Maret 1946, segera setelah berlangsungnya penyerahan kekuasaan, para bangsawan beserta pejabat tinggi kesultanan ditawan di istana oleh TRI sehingga lolos dari kebrutalan para pemuda. Istana Kesultanan Deli berada dekat markas Sekutu sehingga begitu revolusi sosial meletus mereka mendapatkan perlindungan Inggris.

Istana Kesultanan Langkat di Tanjungpura sebenarnya memiliki basis pertahanan yang kuat. Pasukan PADI dan Pasukan Ke-V yang dipimpin Dr. Nainggolan merupakan pendukung kesultanan dan bersiap membela sultan hingga titik darah penghabisan.

Selain itu, istana memiliki pasukan pengawalnya sendiri yang disebut PIL (Penjaga Istana Langkat). Beberapa waktu sebelumnya, mereka telah mendapat bantuan 40 pucuk senjata dari Inggris. Sultan sendiri hendak diselamatkan oleh Inggris, tetapi dia menolaknya karena menyadari ancaman yang akan menimpa kaum bangsawan lainnya.

Pada 4 Maret, anggota Pesindo menangkap kaum bangsawan danpara pendukung kerajaan. Di antara mereka yang menjadi korbannya adalah Tengku Amir Hamzah, penyair Pujangga Baru. Tengku Amir Hamzah sendiri sesungguhnya adalah wakil pemerintah RI. Selain itu, banyak pula anggota Pasukan Ke-V yang dihabisi nyawanya.

Demi menghindari konfrontasi lebih lanjut, Sultan Langkat bersedia menarik mundur PIL dari Tanjungpura. Kendati demikian, pada 8 Maret para pemuda mengepung istana Langkat. Listrik diputuskan pada malam hari tanggal 9 Maret dan dilancarkan serbuan terhadap istana.

Para penghuni istana ditangkap dan tujuh orang tengku dibantai secara brutal. Dua orang putri sultan diperkosa oleh para pemimpin pemuda. Namun, pelakunya kemudian dijatuhi hukuman mati. Secara keseluruhan diperkirakan 38 bangsawan Langkat menjadi korban revolusi sosial ini.

Para pemimpin Republik mengecam tindakan brutal di atas dan menyatakan bahwa hal seperti itu merugikan perjuangan. Pemerintah Republik seolah-olah kehilangan wibawanya di hadapan pasukan Sekutu karena tak sanggup mengendalikan keadaan. Dr. Amir, pejabat gubernur yang mewakili T.M. Hasan, merasa jiwanya terancam dan meminta perlindungan Inggris pada 25 April 1946. Terlepas dari semua itu, efek yang ditimbulkan revolusi sosial ini sungguh dashyat karena dalam waktusingkat berhasil menyapu kekuasaan para sultan dan raja.

Sumber: Ensiklopedia Kerajaan-kerajaan Nusantara oleh Ivan Taniputera



Belum ada Komentar untuk "Revolusi Sosial di Sumatera Timur"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel